Riset: Mendengarkan Musik Klasik Membuat Dokter Bedah Lebih Fokus

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Musisi Jazz Musa Manzini memainkan gitarnya selama operasi otak untuk membantu para dokter memantau gerakan jarinya.[www.iol.co.za]

    Musisi Jazz Musa Manzini memainkan gitarnya selama operasi otak untuk membantu para dokter memantau gerakan jarinya.[www.iol.co.za]

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah riset mengungkapkan bahwa dokter bedah dianjurkan mendengarkan musik klasik gubahan Bach, Mozart, dan Beethoven agar lebih fokus saat mengoperasi.

    Ilmuwan menemukan fakta bahwa dokter lebih akurat dan lebih cepat ketika mereka bekerja dengan musik klasik.

    Namun, efek peningkatan kinerja hanya berfungsi ketika nada dimainkan pada volume rendah hingga sedang.

    Dikutip dari Daily Mail, 10 Desember 2019, pakar Universitas Dundee, yang memimpin penelitian ini, mengatakan musik keras dapat merugikan pasien karena mengganggu ahli bedah.

    Dr Michael El Boghdady dan rekannya meninjau 18 studi yang ada tentang efek Mozart, yang tidak diterima secara luas.

    Beberapa ilmuwan mengatakan mendengarkan musik yang lembut seperti yang digubah oleh komposer Austria, dapat mengurangi tingkat stres dan meningkatkan fokus.

    Tinjauan terbaru dari teori ini memberikan bukti ilmiah yang kuat bahwa efeknya nyata, dan dapat menawarkan manfaat bagi ahli bedah.

    Studi yang dievaluasi melibatkan bermain musik di ruang operasi, yang dianggap praktik umum di seluruh dunia.

    Hasilnya, yang diterbitkan dalam International Journal of Surgery, menunjukkan banyak manfaat bagi ahli bedah yang mendengarkan musik klasik.

    Satu studi menemukan prosedur bedah menyelesaikan hingga 10 persen lebih cepat ketika musik dimainkan. Studi lain menunjukkan kualitas perbaikan kulit lebih tinggi, menurut laporan The Sun.

    Studi ketiga menyimpulkan pasien membutuhkan lebih sedikit obat penghilang rasa sakit atau anestesi jika ahli bedah mereka mendengarkan musik.

    Dr El Boghdady dan rekan peneliti yang menulis dalam jurnal ilmiah mengatakan, "Hasil kami didasarkan pada bukti ilmiah yang kuat."

    "(Mereka) menunjukkan bahwa efek positif dari musik pada kinerja ahli bedah di ruang operasi, mengesampingkan efek negatif apa pun."

    "Musik klasik saat dimainkan dengan volume rendah hingga sedang dapat meningkatkan kinerja bedah dengan meningkatkan akurasi dan kecepatan."

    "Tetapi efek mengganggu musik harus dipertimbangkan ketika memainkan jenis musik keras atau berdenyut tinggi di ruang operasi."

    Hasil penelitian menunjukkan memainkan lagu-lagu dengan volume penuh dapat memicu peningkatan jumlah infeksi pasca-operasi.

    "Efek berbahaya utama terdiri dari gangguan kinerja staf karena komunikasi yang memburuk. Kebisingan menyebabkan gangguan, yang mengakibatkan gangguan diskriminasi bicara dan kejelasan bicara," kata peneliti.

    World Health Organization merekomendasikan tingkat kebisingan di ruang operasi selama pembedahan tidak boleh melebihi 30 desibel atau setara dengan percakapan lembut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.