Amerika dan Prancis Dukung Radar Canggih di Arab Saudi

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kilang minyak Saudi Aramco yang rusak akibat serangan sejumlah drone di Abqaiq, Arab Saudi, 20 September 2019. Iran membantah terlibat dalam serangan yang mengguncang produksi minyak Arab Saudi itu. REUTERS/Hamad l Mohammed

    Kilang minyak Saudi Aramco yang rusak akibat serangan sejumlah drone di Abqaiq, Arab Saudi, 20 September 2019. Iran membantah terlibat dalam serangan yang mengguncang produksi minyak Arab Saudi itu. REUTERS/Hamad l Mohammed

    TEMPO.COManama – Pemerintah Amerika Serikat dan Prancis bekerja sama membangun sistem radar canggih di Arab Saudi untuk meningkatkan deteksi dini pasca serangan pesawat drone dan rudal jelajah, yang merusak sejumlah instalasi infrastruktur minyak di negara itu pada September 2019.

    Komando Pusat AS dan kementerian Pertahanan Prancis juga menyebut perlunya misi maritim untuk melindungi kawasan perairan di Teluk dalam forum keamanan di Bahrain pada Sabtu, 23 November 2019.

    “Kami terus memperbarui mengenai serangan yang dialami Saudi Aramco dan akan dirilis lewat pemerintah Saudi,” kata Jenderal Kenneth McKenzie, yang mengawasi operasi militer di kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan, seperti dilansir Reuters pada Ahad, 24 November 2019.

    McKenzie juga mengatakan,”Kami bekerja sama dengan Saudi untuk meningkatkan jaringan sistem pertahanan mereka. Itu akan membuat mereka mampu melawan terhadap serangan seperti itu.”

    AS dan Eropa menyalahkan serangan rudal jelajah dan drone itu kepada militer Iran.

    Sedangkan Iran membantah tudingan ini dan menyebut kelompok Houthi, yang didukungnya di Yaman, sebagai pelaku.

    Kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan pada September itu sebagai balasan atas serangan militer Saudi di Yaman.

    Reuters melansir lebih dari dua bulan pasca serangan terbesar ke infrastruktur minyak Saudi, Riyadh dan Washington masih harus menyediakan bukti kongkrit yang mengaitkan keterlibatan Iran dengan serangan itu.

    Saudi juga masih harus menjelaskan sejumlah hal mengenai lubang pada sistem pertahanan udaranya sehingga tidak bisa menangkal serangan rudal itu.

    McKenzie mengatakan militer AS meningkatkan kehadirannya di Pangkalan Udara Prince Sultan, yang terletak di Riyadh selatan. AS juga mempunyai pangkalan militer di Qatar dan Bahrain, yang bertugas mempersulit serangan musuh.

    Secara terpisah, Menteri Pertahanan Prancis, Florence Parly, mengatakan negaranya mengirim paket sistem deteksi dini yang canggih. Ini termasuk radar untuk mendeteksi serangan rudal dengan ketinggian rendah.

    “Paket ini akan tiba di Arab Saudi dalam beberapa hari lagi dan segera beroperasional dengan sangat cepat. Tapi, ada analisis yang harus dilakukan untuk mengisi celah-celah pertahanan yang ada,” kata Parly.

    Terkait penawaran saham perdana Saudi Aramco yang sedang berlangsung, seorang analis energi Wael Mahdi menulis di Arab News mengatakan perusahaan minyak raksasa itu merupakan investasi yang strategis.

    Ini karena produksi Saudi Aramco berkontribusi memastikan publik di berbagai negara mendapatkan suplai bahan bakar minyak yang terjangkau.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.