Pejabat Uni Eropa Berharap Trump dan Xi Jinping Bertemu

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Cina Xi Jinping saat acara makan siang bersama dengan Presiden Donald Trump setelah pertemuan KTT G20 di Buenos Aires, Argentina, 1 Desember 2018. REUTERS/Kevin Lamarque

    Presiden Cina Xi Jinping saat acara makan siang bersama dengan Presiden Donald Trump setelah pertemuan KTT G20 di Buenos Aires, Argentina, 1 Desember 2018. REUTERS/Kevin Lamarque

    TEMPO.COJenewa – Komisioner Perdagangan Uni Eropa, Cecilia Malmstrom, mengatakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Cina, Xi Jinping, agar bertemu untuk menyelesaikan perang dagang yang melibatkan kedua negara.

    Baca juga: KTT G20, Trump-Jinping Bakal Bahas Soal Boikot Huawei

     

    Dia berharap Trump dan Xi bisa bertemu di sela-sela pertemuan puncak G-20 di Jepang, yang akan berlangsung akhir Juni ini. Menurut dia, pertemuan keduanya bisa meredakan ketegangan.

    “Jika mereka bertemu, saya pikir seluruh dunia akan berpikir ini adalah ide yang bagus,” kata Malmstrom seperti dilansir Channel News Asia pada Sabtu, 15 Juni 2019.

    Baca juga: Trump dan Xi Jinping Bakal Bahas Perang Dagang di Jepang

     

    Malstrom mengatakan pertemuan keduanya bisa menjadi deeskalasi. “Kedua negara saling bicara dan itu menjadi tanda yang bagus bagi seluruh dunia.”

    Namun, Malmstrom mengatakan isu sengketa dagang kedua negara tidak akan diselesaikan di Osaka, Jepang, yang menjadi tempat berlangsungnya pertemuan tahunan G-20 pada 2019 ini.

    Baca juga: Trump dan Xi Jinping Susun MoU untuk Akhiri Perang Dagang AS

     

    AS dan Jepang, seperti dilansir Reuters, terlibat perang tarif impor dengan masing-masing negara menaikkan tarif impor dari 5 – 25 persen. Trump juga mengancam akan menaikkan tarif impor lebih tinggi jika tidak tercapai kesepakatan dagang dengan Cina.

    Malmstrom mengatakan AS bisa menempuh cara menyelesaikan konflik dagang dengan Cina lewat forum World Trade dan bukan dengan tarif. Menurut dia, pemerintah Cina memang perlu melakukan reformasi dan menghilangkan subsidi massal untuk semua industrinya. Ini bisa dilakukan untuk alasan ideologis dan pragmatis.

    Baca juga: Pertemuan Trump dan Jinping Berdampak Positif ke Rupiah - Bisnis

     

    Menurut Malmstrom, ada batas mengenai perubahan yang bisa dicapai Trump menggunakan mekanisme kenaikan tarif.

    “Saya kira Anda tidak bisa melakukan pergantian rezim di Cina. Maksud saya tentu menyenangkan jika kita bangun besok dan Cina menjadi negara demokrasi penuh dan menghargai HAM. Ini tidak akan terjadi besok dan tidak akan terjadi karena kenaikan tarif,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bagi-bagi Jatah Menteri di Komposisi Kabinet Jokowi

    Partai koalisi pemerintah membahas komposisi kabinet Jokowi - Ma'ruf. Berikut gambaran komposisi kabinet berdasarkan partai pendukung pasangan itu.