Serang Ibu Kota Libya, PBB Sebut Khalifa Haftar Mau Kudeta

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jenderal Khalifa Haftar dari Kota Benghazi, bekas anak buah pemimpin Libya, Moammar Gaddafi. Middle East Monitor

    Jenderal Khalifa Haftar dari Kota Benghazi, bekas anak buah pemimpin Libya, Moammar Gaddafi. Middle East Monitor

    TEMPO.CO, Jakarta - PBB mengatakan komandan pemerintah Libya timur, Jenderal Khalifa Haftar, ingin mengkudeta pemerintahan PM Fayez al-Serraj dengan menyerang ibu kota Tripoli.

    Tentara Nasional Libya (LNA) yang dipimpin Haftar, maju ke pinggiran Tripoli hampir dua minggu yang lalu, dan merebut daerah itu dalam dua hari.

    Namun, pemerintah Serraj yang diakui secara internasional telah berhasil meredam perlawanan Haftar di pinggiran selatan, sebagian besar berkat kelompok-kelompok bersenjata yang bergegas membantu mereka dari berbagai faksi Libya barat.

    Khalifa Haftar, seorang mantan jenderal berusia 75 tahun era almarhum diktator Muammar Gaddafi, telah membangun jumlah pasukan dan mengintensifkan serangan udara dalam kampanye yang ia klaim untuk memulihkan ketertiban dan membasmi teroris.

    Baca: Saudi Diduga Biayai Jenderal Haftar untuk Serang Ibu Kota Libya

    Tapi utusan PBB untuk Libya Ghassan Salame, seperti dikutip dari Reuters, 16 April 2019, mengatakan keputusan Haftar untuk menyerang dan memerintahkan penangkapan pejabat tinggi Tripoli terdengar lebih seperti kudeta daripada kontra-terorisme.

    Pihak Haftar mengkonfirmasi bahwa surat perintah tersebut telah dikeluarkan dan pemerintah Serraj mengatakan bahwa surat itu langsung ditolak.

    Anggota militer Misrata, di bawah perlindungan pasukan Tripoli mempersiapkan kendaraan militernya saat bersiap-siap menuju garis depan di Tripoli, Libya, 8 April 2019. REUTERS/Hani Amara

    Salame, yang rencananya menggelar konferensi rekonsiliasi nasional minggu ini, harus membatalkannya karena pertempuran.

    Dia berharap kedua belah pihak akan menyadari dalam beberapa hari mendatang bahwa tidak ada yang dapat mencapai kemenangan militer.

    Baca: PBB Catat 121 Orang Tewas dalam Perang Sipil di Libya

    "Kami sebenarnya berada dalam kebuntuan militer sejak delapan hari, atau sembilan hari," kata Salame, menambahkan bahwa kedua pihak telah melakukan masing-masing 30 serangan udara namun tidak mengubah situasi di darat.

    Serangan udara dan baku tembak telah menghantam infrastruktur sipil dan rumah-rumah penduduk, terutama di selatan Tripoli di mana pasukan Khalifa Haftar berusaha menembus pertahanan pemerintahan Libya yang didukung PBB.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.