Keluarga Pelaku Serangan Teror Sebut Tarrant Layak Hukuman Mati

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelaku penembakan massal di Kota Christchurch, Selandia Baru, Brenton Harrison Tarrant, menembaki jamaah masjid Al Noor  dan masjid Linwood, yang menewaskan 50 orang dengan 48 terluka. Times of Islamabad

    Pelaku penembakan massal di Kota Christchurch, Selandia Baru, Brenton Harrison Tarrant, menembaki jamaah masjid Al Noor dan masjid Linwood, yang menewaskan 50 orang dengan 48 terluka. Times of Islamabad

    TEMPO.CONew South Wales – Sepupu dari pelaku serangan teror di Selandia Baru, Donna Cox, mengatakan Brenton Harrison Tarrant layak mendapat hukuman mati atas kejahatan yang dilakukannya.

    Baca:

     

    Tarrant menembaki jamaah masjid Al Noor dan masjid Linwood pada Jumat, 15 April 2019, dan menewaskan 50 orang baik lelaki, perempuan, dan anak-anak.

    “Dia layak untuk mendapatkan hukuman mati atas apa yang telah dilakukannya. Mengatakan ini rasanya sakit bagi saya karena dia anggota keluarga,” kata Donna Cox kepada acara Sunday Night seperti dilansir News pada Senin, 18 Maret 2019.

    Cox menambahkan,”Untuk seseorang yang telah mengambil nyawa begitu banyak orang, adil rasanya kalau dia mengalami hal sama.”

    Baca:

     

    Menurut Cox, ayah dan ibu Tarrant merupakan orang terhormat di komunitas Kota Grafton, New South Wales, Australia. Saat ini, ibu dan saudara perempuan Tarrant diamankan di sebuah rumah rahasia oleh petugas keamanan setempat. Sedangkan saudara Tarrant yang lain telah menyatakan bela sungkawa kepada para korban dan keluarganya.

    Terry Fitzgerald, paman dari Tarrant, meminta maaf kepada keluarga para korban yang dilakukan keponakannya itu.

    “Kami meminta maaf kepada keluarga di sana, untuk keluarga dari korban yang telah meninggal dan terluka. Apa yang dilakukannya sama sekali tidak benar,” kata Fitzgerald atas nama keluarga besar kepada media Nine News.

    Baca:

     

    Nenek Tarrant yaitu Marie Fitzgerald mengatakan cucunya itu telah berubah dari pribadi yang dikenalnya selama ini. Berita media massa, kata dia, mengatakan cucunya itu telah merencanakan tindakannya terornya itu sejak lama. “Dia berubah sejak pergi ke luar negeri,” kata dia, yang berusia 81 tahun.

    Tarrant pergi ke luar negeri pada 2010 setelah ayahnya meninggal terkena kanker. Dia pergi mengunjungi sejumlah negara termasuk Eropa

    Ini adalah sebagian wajah para korban penembakan dalam serangan teror Selandia Baru oleh Brenton Harrison Tarrant, 28 tahun, yang mendukung supremasi kulit putih. TVNZ

    Tarrant, 28 tahun, kembali pulang 12 bulan lalu ke Grafton untuk merayakan hari ulang tahun saudara perempuannya. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan saat itu.

    Baca:

     

    Menurut catatan polisi, Tarrant menyerang jamaah masjid Al Noor, yang terletak di sebelah taman Hagley Park. Dia lalu berkendaraan dengan mobil menuju masjid Linwood, yang terletak sekitar 5 kilometer jauhnya dalam waktu tujuh menit. Dalam 36 menit dia melancarkan serangan teror, 48 orang tewas dan 38 orang lainnya terluka tembak. 2 Orang belakangan tewas di rumah sakit. Korban tewas paling muda berusia 3 tahun atas nama Mucaad Ibrahim, yang berasal dari keluarga imigran Somalia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.