Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Miliarder Muda Tantang Junta Militer pada Pemilu Thailand

Reporter

Editor

Budi Riza

image-gnews
Ketua Umum Partai Masa Depan Maju, Thanathorn Juarngroongruangkit, sedang berswa foto dengan sejumlah warga di Thailand, Reuters
Ketua Umum Partai Masa Depan Maju, Thanathorn Juarngroongruangkit, sedang berswa foto dengan sejumlah warga di Thailand, Reuters
Iklan

TEMPO.COBangkok – Miliarder muda , Thanathorn Juangroongruangkit, menjadi bintang baru menjelang pemilu Thailand, yang akan diikuti Partai Masa Depan Maju atau Future Forward Party besutannya.

Baca:

 

Sejumlah warga mengantre untuk berswa foto dengannya. Tagar buatannya juga menjadi trending topic di sosial media.

Thanathorn berjanji kepada publik Thailand untuk mengakhiri pemerintahan ala diktator militer Thailand.

“Saya mendesak semua ‘Futuristas’ untuk berkampanye menolak masa depan yang memungkinkan pemimpin junta muncul lagi sebagai Perdana Menteri,” kata Thanathorn dalam pawai pada Sabtu, 23 Februari 2019.

Miliarder Thanathorn membangun kekayaannya dengan berbisnis suku cadang otomotif. Dia masuk ke jalur politik dan menjadi pendatang baru. Menggunakan jalur sosial media, Thanathorn mencoba menggalang dukungan pemilih mudah menjelang pemilu 24 Maret 2019. Ini merupakan pemilu pertama sejak kudeta terjadi pada 2014.

Baca:

 

Thanathorn, 40 tahun, sempat membuat pesan video dan diunggah di sosial media Facebook pada Juni 2018 yang berisi kritik terhada junta militer. Polisi menyatakan akan menyelidiki isi video ini apakah melanggar UU Kejahatan Komputer, yang jika terbukti Thanathorn menghadapi ancaman maksimal lima tahun.

Thanathorn membantah telah melakukan kesalahan. Dia bakal memenuhi panggilan otoritas jaksa pada Rabu, 27 Februari 2019, yang akan menentukan akan menindaklanjuti kasus ini atau tidak.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Baca:

 

Pada saat yang sama, Thanathorn menghadapi petisi sekelompok orang yang mendesak Komisi Pemilihan Umum mendiskualifikasi dirinya untuk bisa mengikuti pemilu. Thanathorn menilai langkah itu menunjukkan partai sayap kiri yang didirikannya menimbulkan arasa takut orang-orang yang masih ingin melihat militer berkuasa di Thailand.

“Itu rasa takut. Tidak seorangpun berpikir kami akan bergerak sejauh ini. Ini adalah upaya terakhir diktator untuk bisa bertahan,” kata Thanathorn kepada Reuters.

Baca:

 

Pada saat yang sama, sebagian unggahan di sosial media menyebutnya sebagai anti-kerajaan. Ini merupakan tuduhan serius di negara yang mengatur undang-undang melarang kritik terhadap kerajaan.

Thanathorn menyebut itu sebagai kampanye untuk merusak citra partainya. “Jelas kami akan memainkan peran signifikan setelah pemilu ini. Satu-satunya cara untuk melemahkan kami adalah menghancurkan kredibiltas kami dengan menggunakan UU, berita bohong, dan ujaran kebencian,” kata dia.c

Baca:

 

Secara terpisah, polisi Thailand mengatakan akan melanjutkan kasus yang melibatkan video unggahan tadi. “Kami akan mengirim kasus ini kepada tahap penuntutan dan tersangka kepada jaksa agung,” Letnan Polisi Kolonel, Krit Seneewong Na Ayutthaya, yang menjadi penyidik kasus ini dari divisi kejahatan siber. Krit mengatakan kelanjutan kasus ini akan tergantung pada jaksa apakah akan membawanya ke pengadilan. Belum diketahui bagaimana nasin Thanathorn dan partainya pada pemilu Thailand jika kasus ini terus berlanjut. 

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Miliarder Elon Musk Dukung Pencalonan Donald Trump dalam Pilpres AS 2024

8 hari lalu

Presiden AS Donald Trump dan Elon Musk di Firing Room 4 setelah peluncuran roket SpaceX Falcon 9 dan pesawat ruang angkasa Crew Dragon pada misi SpaceX Demo-2 NASA ke Stasiun Luar Angkasa Internasional dari Kennedy Space Center NASA di Cape Canaveral, Florida, AS 30 Mei 2020. REUTERS/Jonathan Ernst
Miliarder Elon Musk Dukung Pencalonan Donald Trump dalam Pilpres AS 2024

Elon Musk siap mengucurkan pendanaan Rp729 miliar perbulan untuk mendukung pencalonan Donald Trump dalam pilpres AS 2024


Honor Nyanyi Justin Bieber di Pernikahan Anak Miliarder Mukesh Ambani Dikomentari Netizen

12 hari lalu

Dalam laman Instagram-nya, Justin Bieber pun memamerkan beberapa foto saat seluruh tato di tubuhnya menghilang. Youtube
Honor Nyanyi Justin Bieber di Pernikahan Anak Miliarder Mukesh Ambani Dikomentari Netizen

Justin Bieber memancing kontroversi di India karena meminta bayaran pada Mukesh Ambani sebesar Rp160 miliar untuk tampil di pernikahan Anant


Thailand Menyelesaikan Pemilihan Senat Pertama dalam Satu Dekade

27 hari lalu

Srettha Thavisin dari Pheu Thai memberi isyarat di markas besar partai sebelum upacara dukungan kerajaan setelah parlemen Thailand menyetujui pencalonan perdana menterinya, di Bangkok, Thailand 23 Agustus 2023. REUTERS/Athit Perawongmetha
Thailand Menyelesaikan Pemilihan Senat Pertama dalam Satu Dekade

Ini menjadi pemilu pertama Senat sejak kudeta militer thailand satu dekade lalu.


4.300 Miliarder asal India Diperkirakan Hijrah ke Luar Negeri, Sebagian Besar ke Uni Emirat Arab

34 hari lalu

Putri Miliarder dari India Jadi Mahasiswi Termewah di Inggris. Dia berkuliah di Universitas St. Andrew, Skotlandia, Inggris. Sumber: ndtv.com
4.300 Miliarder asal India Diperkirakan Hijrah ke Luar Negeri, Sebagian Besar ke Uni Emirat Arab

India terus memproduksi semakin banyak individu-individu kaya raya ketimbang jumlah miliarder yang angkat kaki dari India


Biaya Perawatan Anjing Lebih Mahal dari Gaji ART, Keluarga Miliarder dari India Kena Dakwaan Eksploitasi

35 hari lalu

Ilustrasi Asisten Rumah Tangga / Pembantu. changewire.org
Biaya Perawatan Anjing Lebih Mahal dari Gaji ART, Keluarga Miliarder dari India Kena Dakwaan Eksploitasi

Paspor ART itu ditahan keluarga miliarder itu dan mereka mendapat bayaran USD8 (Rp131 ribu) untuk pekerjaan 15 - 18 jam per hari


Bank Dunia Sebut Kemiskinan di Myanmar Terparah dalam 6 Tahun Terakhir

41 hari lalu

Wanita menunggu kereta usai berbelanja di pasar stasiun kereta api di Yangon, Myanmar, 20 Agustus 2014. REUTERS/Soe Zeya Tun
Bank Dunia Sebut Kemiskinan di Myanmar Terparah dalam 6 Tahun Terakhir

Meningkatnya kekerasan, kekurangan tenaga kerja, dan depresiasi mata uang telah membuat kemiskinan di Myanmar meluas.


Kelompok Perlawanan Myanmar Klaim Tangkap Ratusan Aggota Junta Militer

7 Mei 2024

Pemberontak Arakan Army di Myanmar. [ NARINJAYA]
Kelompok Perlawanan Myanmar Klaim Tangkap Ratusan Aggota Junta Militer

Tentara Arakan atau Arakan Army menyatakan telah menangkap ratusan anggota junta Myanmar.


Perang Saudara Myanmar: Kelompok Perlawanan Tarik Pasukan dari Perbatasan Thailand

24 April 2024

Tentara berdiri di samping kendaraan militer ketika orang-orang berkumpul untuk memprotes kudeta militer, di Yangon, Myanmar, 15 Februari 2021. REUTERS/Stringer/File Photo
Perang Saudara Myanmar: Kelompok Perlawanan Tarik Pasukan dari Perbatasan Thailand

Tentara Pembebasan Nasional Karen memutuskan menarik pasukannya dari perbatasan Thailand setelah serangan balasan dari junta Myanmar.


Pertempuran di Perbatasan Myanmar-Thailand, Pemberontak Targetkan Pasukan Junta

20 April 2024

Tentara Thailand berlindung di dekat Jembatan Persahabatan Thailand-Myanmar ke-2 selama pertempuran di sisi Myanmar antara Tentara Pembebasan Nasional Karen (KNLA) dan pasukan Myanmar, yang berlanjut di dekat perbatasan Thailand-Myanmar, di Mae Sot, Provinsi Tak, Thailand, April 20, 2024. REUTERS/Soe Zeya Tun
Pertempuran di Perbatasan Myanmar-Thailand, Pemberontak Targetkan Pasukan Junta

Pertempuran berkobar di perbatasan timur Myanmar dengan Thailand memaksa sekitar 200 warga sipil melarikan diri.


Menilik Jejak Sejarah Kudeta Junta Militer Di Myanmar

18 April 2024

Seorang tentara dari Tentara Pembebasan Nasional Karen (KNLA) berpatroli dengan kendaraan, di samping area yang hancur akibat serangan udara Myanmar di Myawaddy, kota perbatasan Thailand-Myanmar di bawah kendali koalisi pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Persatuan Nasional Karen, di Myanmar, 15 April 2024. REUTERS/Athit Perawongmetha
Menilik Jejak Sejarah Kudeta Junta Militer Di Myanmar

Myanmar, yang dulunya dikenal sebagai Burma itu telah lama dianggap sebagai negara paria ketika berada di bawah kekuasaan junta militer yang menindas.