Tuding Uskup Doakan Kematiannya, Duterte: Kita Bertemu di Neraka

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Sumber: INQUIRER.net

    Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Sumber: INQUIRER.net

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Filipina Rodrigo Duterte kembali menyerang uskup Gereja Katolik dengan mengklaim bahwa seorang uskup mengharapkan kematiannya dan mengajak uskup bertemu di neraka.

    Presiden mengatakan ini untuk membenarkan pernyataan sebelumnya bahwa para uskup harus dibunuh karena mengkritik pemerintahannya.

    Baca: Lewat Pidato, Duterte Kembali Ancam Bunuh Para Uskup

    "Jika Anda para pendeta, uskup, jika Anda bisa mengatakan itu kepada saya, mendoakan saya mati ketika misa, mengapa saya tidak bilang? Anda juga harus (mati). Lagi pula, siapa yang akan percaya bahwa Anda akan pergi ke surga?" kata Duterte pada Kamis saat pembukaan Mella Hotel di Las Pinas City, menurut laporan Philstar, 15 Desember 2018.

    "Kalian bermimpi. Kita semua, kita akan bertemu di neraka," tambahnya.

    Rodrigo Duterte.[CBCPNews]

    Duterte juga memperingatkan pengkritiknya untuk tidak menggunakan agama sebagai pijakan untuk menyerangnya. Gereja Katolik Filipina telah mengkritik kampanyenya terhadap obat-obatan terlarang karena telah mengakibatkan ribuan pembunuhan di luar hukum terhadap tersangka narkoba.

    Baca: Rodrigo Duterte Ancam Bunuh Uskup Jika Terlibat Narkoba

    Terlepas dari kritiknya terhadap Gereja Katolik, Duterte mengatakan ia kagum dengan Paus Fransiskus, yang pernah ia hujat karena dianggap menyebabkan lalu lintas selama kunjungannya ke Filipina pada 2015.

    "Paus yang sekarang, dia progresif. Saya percaya padanya. Saya salut padanya," katanya.

    Kunjungan Paus Fransiskus ke Manila, Filipina, 19 Januari 2015.[philstar]

    Pada November 2015, Duterte mengenang bagaimana beberapa jalan ditutup untuk memberi jalan bagi orang banyak yang ingin melihat Paus Fransiskus.

    Presiden Duterte dikecam Gereja Katolik karena menggunakan kata-kata tidak senonoh terhadap Paus. Beberapa hari setelah acara, Duterte meminta maaf dan menyangkal telah menghujat Paus Fransiskus.

    Baca: Duterte Imbau Umat Katolik Tidak ke Gereja, Kenapa?

    Rodrigo Duterte, yang saat itu adalah calon presiden Filipina, menjelaskan bahwa dia mengkritik ketidakmampuan pemerintah dalam menangani kemacetan lalu lintas selama kunjungan paus dan menekankan bahwa dia tidak bermaksud tidak menghormati Paus.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.