5 Poin Soal Perang Narkoba Brutal di Filipina Ala Duterte

Reporter

Editor

Budi Riza

Ekspresi Presiden Filipina, Rodrigo Duterte saat mendeklarasikan pembebasan kota Marawi, Filipina, 17 Oktober 2017. Militer Filipina berhasil membebaskan Marawi setelah hampir 5 bulan dikuasai kelompok militan Maute. AP Photo/Bullit Marquez

TEMPO.CO, ManilaFilipina mendapat kembali kursi di Dewan HAM PBB untuk masa tiga tahun mendatang bersama 47 negara anggota lainnya. Ini membuat aktivis HAM mengkritik dengan mengatakan Filipina tidak layak duduk di Dewan HAM PBB karena rekam jejak perang narkoba, yang telah menewaskan lebih dari 4.800 orang.

Baca: 

Warga Filipina Dukung Perang Narkoba, Tolak Praktek Pembunuhan

 

Negara ini terpilih dalam proses voting di Sidang Umum PBB pada Jumat pekan lalu dengan 165 suara mendukung dari 193 suara. Satu suara absen.

“Kampanye Presiden melawan obat-obatan terlarang, korupsi dan kriminalitas telah diakui dunia internasional sebagai cara yang esensial untuk proteksi hak hidup, kebebasan dan hak milik,” kata Salvador Panelo, juru bicara Duterte seperti dilansir Straits Times pada Ahad, 14 Oktober 2018.

Baca:

 

Namun, seperti dilansir Reuters, pengritik Duterte, anggota parlemen Gary Alejano, menggambarkan terpilihnya Filipina sebagai ironi besar. “Negara yang memiliki banyak kasus HAM tidak punya tempat di Dewan,” kata dia dalam sebuah pernyataan.

Berikut ini 5 hal terkait perang narkoba, yang menjadi program kampanye Duterte dan dilaksanakan sejak dia terpilih pada Juni 2018 menurut temuan Human Rights Watch pada 2017:

  1. Jumlah korban tewas perang narkoba sejak program itu digelar ketika Presiden Rodrigo Duterte terpilih pada 30 Juni 2016 mencapai sekitar 7000 orang. Operasi ini disebut “Operation Double Barrel”. Jauh diatas jumlah versi resmi yaitu sekitar 4.800 orang.

Baca:

  1. Operasi ini kerap diwarnai dengan tindakan pembunuhan semena-mena atau extrajudicial killing oleh polisi atau tentara dengan alasan bandar dan pemakai narkoba mencoba melawan. Operasi ini kerap menyasar daerah kumuh di ibu kota Manila namun juga masuk ke kawasan urban.
  1. Saksi mata justru melihat korban tewas ditembak dalam keadaan tidak melawan dan tidak bersenjata. Agar terlihat benar dimata hukum, HRW menemukan adanya upaya menutup-nutupi dengan menaruh senjata, amunisi telah terpakai, dan paket narkoba pada tubuh korban.

Baca:

  1. Sebelum menjadi Presiden, Rodrigo Duterte pernah menjabat sebagai Wali Kota Davao selama sekitar dua puluh tahun. Di kota ini ada kelompok dengan nama “Davao Death Squad” yang telah membunuh ratusan para pengguna narkoba, anak-anak dan kriminal kecil-kecilan. Meski mengaku tidak mendukung skuad pembunuh ini, Duterte terang-terangan mengatakan ini diperlukan untuk mengatasi kejahatan, yang membuatnya mendapat julukan “Duterte Harry”.

Baca:

  1. Sebelum menjadi Presiden, Duterte pernah mengatakan dia berupaya mengatasi kejahatan dengan mengeliminasi para penjahat. “Jika Tuhan menaruh saya di posisi itu (sebagai Presiden), hati-hati karena 1000 orang (yang diduga tewas saat Duterte menjadi Wali Kota Davao), akan menjadi 100 ribu orang. Kalian akan melihat ikan-ikan di Teluk Manila bakal menjadi gendut. Itu karena saya akan membuangmu ke sana.”





Perundingan Ukraina Perlu Didorong Kerja Sama Multilateral

11 jam lalu

Perundingan Ukraina Perlu Didorong Kerja Sama Multilateral

Koordinasi dan kerja sama multilateral dianggap penting untuk menyelesaikan invasi Rusia di tengah potensi membekunya perang dalam waktu lama.


Dinyatakan Bebas Bersyarat, Begini Kisah Pelarian Terpidana Terorisme Bom Bali I Umar Patek

12 jam lalu

Dinyatakan Bebas Bersyarat, Begini Kisah Pelarian Terpidana Terorisme Bom Bali I Umar Patek

Awal perjalanan Umar Patek dimulai pada 1995 saat ia terlibat dalam perjuangan Moro Islamic Liberation Front di Minanao, Filipina.


Pengedar Ganja Ditangkap di Jatinegara, Polisi Dapat Info dari Live IG Pelajar yang Mau Tawuran

1 hari lalu

Pengedar Ganja Ditangkap di Jatinegara, Polisi Dapat Info dari Live IG Pelajar yang Mau Tawuran

Polisi memantau live IG sekelompok pelajar yang hendak tawuran di Jalan Inspeksi Kali Ciliwung. Ada sejumlah pemuda yang menghisap ganja.


Tiga Kota di Filipina yang Ramah Wisatawan Muslim

1 hari lalu

Tiga Kota di Filipina yang Ramah Wisatawan Muslim

Filipina bisa dipertimbangkan untuk menjadi tujuan wisata luar negeri warga Indonesia.


Istri Teddy Minahasa Diduga Pernah Telepon Istri Dody Prawiranegara, Ajak Ikut Skenario

1 hari lalu

Istri Teddy Minahasa Diduga Pernah Telepon Istri Dody Prawiranegara, Ajak Ikut Skenario

Mantan Kapolda Sumatera Barat Irjen Teddy Minahasa diduga memerintahkan anak buahnya menukar sabu dengan tawas


Hadapi Ancaman China dan Korut, Jepang Siapkan Rp500 Triliun untuk Rudal Jarak Jauh

2 hari lalu

Hadapi Ancaman China dan Korut, Jepang Siapkan Rp500 Triliun untuk Rudal Jarak Jauh

Jepang siapkan anggaran Rp568 triliun untuk mengembangkan rudal jarak jauh di tengah meningkatnya ancaman dari China dan Korea Utara


Polda Metro Jaya Gencarkan Razia Narkoba Jelang Tahun Baru

3 hari lalu

Polda Metro Jaya Gencarkan Razia Narkoba Jelang Tahun Baru

Penyalahgunaan narkoba meninggkat setiap Desember


Vladimir Putin Dianggap Tidak Tulus Ingin Dialog Damai dengan Ukraina

5 hari lalu

Vladimir Putin Dianggap Tidak Tulus Ingin Dialog Damai dengan Ukraina

Presiden Rusia Vladimir Putin disebut Victoria Nuland tidak tulus tentang niat melakukan dialog damai dengan Ukraina saat ini.


Hotman Paris tidak Tahu Keberadaan 5 Kg Sabu di Kasus Teddy Minahasa

6 hari lalu

Hotman Paris tidak Tahu Keberadaan 5 Kg Sabu di Kasus Teddy Minahasa

Hotman Paris sempat mengatakan sabu 5 kg yang disebut ditukar tawas oleh Teddy Minahasa masih ada dan disimpan kejaksaan


Dikira Sampah, Petugas Rutan Depok Temukan Ganja dan Sabu

7 hari lalu

Dikira Sampah, Petugas Rutan Depok Temukan Ganja dan Sabu

Petugas Rutan Kelas I Depok menggagalkan upaya penyelundupan narkoba golongan I jenis sabu dan ganja yang disamarkan menjadi sampah