Pemberontak Suriah Menyerah, Assad Kuasai Perbatasan Israel

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto ini dirilis oleh kantor berita resmi Suriah SANA, menunjukkan pasukan Suriah, wartawan dan warga sipil melihat bus yang mengevakuasi orang-orang dari dua desa pro-pemerintah, Foua dan Kfarya, di Tel el-Eis, persimpangan antara provinsi Aleppo dan Idlib, Suriah , Kamis, 19 Juli 2018.[SANA via AP]

    Foto ini dirilis oleh kantor berita resmi Suriah SANA, menunjukkan pasukan Suriah, wartawan dan warga sipil melihat bus yang mengevakuasi orang-orang dari dua desa pro-pemerintah, Foua dan Kfarya, di Tel el-Eis, persimpangan antara provinsi Aleppo dan Idlib, Suriah , Kamis, 19 Juli 2018.[SANA via AP]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemberontak Suriah akhirnya menyerahkan diri di provinsi Quneitra barat pada Kamis 19 Juli, dan membuka jalan bagi pemerintah Bashar al-Assad untuk membangun kembali otoritasnya di sepanjang perbatasan Israel.

    Dilaporkan Associated Press, 20 Juli 2018, kesepakatan itu, dikonfirmasi oleh pengawas dan aktivis di Quneitra, dan akan menempatkan pemerintah Suriah berhadapan langsung dengan Israel di sepanjang perbatasan untuk pertama kalinya sejak perang sipil pecah pada 2011.

    Baca: Seluruh Milisi Kurdi Ditarik dari Manbij Suriah

    Satu armada bus tiba di Quneitra pada Kamis malam untuk menjemput militan, aktivis dan warga lain yang menolak menerima penyerahan diri. Bus ini mengevakuasi mereka ke daerah-daerah yang dikuasai pemberontak di Suriah utara.

    Suriah dan Israel berperang dua kali di perbatasan mereka, pada 1967 dan 1973, yang membuat Israel menduduki Dataran Tinggi Golan di provinsi Quneitra.

    Delegasi dari pemerintah dan pemberontak beberapa kali selama dua hari terakhir, bertemu untuk merundingkan syarat-syarat penyerahan diri.

    Ribuan warga termasuk pejuang pemberontak, media oposisi, pekerja medis dan warga sipil akan menuju ke utara melalui Quneitra.

    Tentara Israel berdiri di atas tank di Dataran Tinggi Golan dekat perbatasan Israel dengan Suriah.(REUTERS)

    Pada hari Kamis, armada bus membantu mengevakuasi penduduk yang dikunjungi dari desa-desa Syiah, pro-pemerintah di Suriah utara yang mengalami pengepungan pemberontak selama tiga tahun, ke pemerintah provinsi Aleppo yang berdekatan. Sekitar 7.000 orang dievakuasi dari Foua dan Kfraya.

    Sementara media Israel, Haaretz, melaporkan Presiden Suriah Bashar al-Assad bersiap untuk memulihkan kendali perbatasan dengan Dataran Tinggi Golan Israel setelah para pejuang pemberontak di daerah sekitar menyerahkan diri.

    Baca: Bendera Suriah Berkibar di Dara'a Setelah 7 Tahun Perang

    Para pemberontak di provinsi al-Quneitra di perbatasan dengan wilayah yang dikuasai Israel telah sepakat untuk menerima perjalanan yang aman ke provinsi Idlib yang dikuasai pemberontak di barat laut.

    Ini menandai kemenangan besar Assad, yang telah memulihkan wilayah Suriah barat daya selama sebulan terakhir dalam serangan yang didukung Rusia, yang telah memaksa banyak pemberontak untuk menyerah.

    Laporan oleh outlet berita militer yang dikuasai Hizbullah mengatakan perjanjian itu menetapkan "kembalinya tentara Suriah, yang diwakili dalam brigade ke-90 dan ke-61, ke posisi yang ada sebelum 2011."

    Baca: Ikut Olimpiade di Rumania, Putra Assad Minta Diperlakukan Normal

    Satu salinan kesepakatan yang dikirim ke Reuters oleh sumber pemberontak termasuk ketentuan bahwa polisi militer Rusia akan menyertai dua brigade tentara Suriah yang sama "ke garis gencatan senjata dan zona demiliterisasi, menurut perjanjian 1974."

    Zona demiliterisasi Dataran Tinggi Golan didirikan pada 1974 setelah perang Timur Tengah tahun 1973. Ketentuan itu tidak menjelaskan implikasi dari penempatan unit militer di zona itu. Akan ada negosiasi lebih lanjut tentang batas waktu untuk menyerahkan senjata sedang dan berat, sesuai dengan kesepakatan dengan pemberontak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.