Relawan Medis Gaza Ditembak Sniper Israel saat Evakuasi Korban

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pengunjuk rasa Palestina mengevakuasi Razan Najjar setelah tertembak di Jalur Gaza, 1 Juni 2018. Setelah tertembak, Razan sempat dirujuk ke Rumah Sakit Gaza Eropa di Khan Younis, namun nyawanya tak tertolong dan meninggal di ruang operasi.  AP Photo/Adel Hana

    Para pengunjuk rasa Palestina mengevakuasi Razan Najjar setelah tertembak di Jalur Gaza, 1 Juni 2018. Setelah tertembak, Razan sempat dirujuk ke Rumah Sakit Gaza Eropa di Khan Younis, namun nyawanya tak tertolong dan meninggal di ruang operasi. AP Photo/Adel Hana

    TEMPO.CO, Jakarta - Relawan medis yang ikut membantu menangani korban luka saat demonstrasi di Gaza, Razan al-Najjar, tewas ditembak tentara Israel saat berupaya mengevakuasi korban dari pagar perbatasan pada Jumat 1 Juni 2018.

    Di lokasi protes di Khuza'a, saksi mengatakan bahwa Razan mendekati pagar pada Jumat dengan mengenakan rompi medis dan dengan kedua lengannya terangkat untuk menunjukkan kepada tentara Israel yang berjarak 100 meter bahwa dia tidak menimbulkan ancaman, seperti dikutip dari Aljazeera 3 Juni 2018.

    Baca: Tiga Perahu Swedia Berlayar ke Gaza untuk Solidaritas Palestina

    Ia mendekati pagar untuk mengevakuasi seorang pengunjuk rasa yang terluka yang tergeletak di sisi lain pagar, setelah dia berhasil memotong lubang di pagar. Namun tiba-tiba Razan tertembak di dadanya dengan peluru tajam, satu peluru menembus lubang di bagian belakang rompi.

    Razan al-Najjar yang masih berusia 21 Tahun menjadi orang Palestina ke-119 yang dibunuh oleh pasukan Israel sejak protes menuntut agar hak Palestina untuk kembali ke tanah mereka ketika diusir pada 1948. Sementara lebih dari 13.000 orang lainnya terluka.

    Razan Najjar, seorang perawat yang bekerja secara sukarela sebagai tim medis di tengah protes Palestina terhadap Israel di Jalur Gaza. Wanita 21 tahun itu tewas ditembak oleh militer Israel pada Jumat sore, 1 Juni 2018. manartv.com.lb

    Rida Najjar, yang juga seorang relawan medis, mengatakan dia berdiri di samping Razan ketika dia ditembak.

    "Ketika kami memasuki pagar untuk mengambil para pengunjuk rasa, Israel menembakkan gas air mata ke arah kami," kata pria berusia 29 tahun tersebut.

    "Kemudian seorang penembak jitu menembakkan satu tembakan, yang langsung mengenai Razan. Pecahan peluru melukai tiga anggota lain dari tim kami."

    "Razan pada mulanya tidak menyadari dia telah ditembak, tetapi kemudian dia mulai menangis, 'Punggung saya, punggungku!' dan kemudian dia jatuh ke tanah," Ujar Rida menirukan suara Razan saat ditembak.

    "Itu sangat jelas dari seragam kami, rompi kami dan tas medis, siapa kami," tambahnya. "Tidak ada pengunjuk rasa lain di sekitar, hanya kami."

    Militer Israel mengatakan pada Sabtu 2 Juni, pihaknya akan menyelidiki kematian Razan tetapi IDF meyakini pasukannya bekerja sesuai dengan prosedur operasi standar.

    "IDF konsisten mengikuti prosedur operasional dan mengurangi jumlah korban di wilayah pagar keamanan di Jalur Gaza," kata militer dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Washington Post, "Sayangnya, organisasi teror Hamas dengan sengaja dan metodis menempatkan warga sipil dalam bahaya."

    Razan Najjar saat menolong para pengunjuk rasa Palestina yang terkena semburan gas air mata saat kerusuhan di Jalur Gaza, 1 April 2018. Razan merupakan warga Khuzaa, sebuah desa pertanian di perbatasan Israel, sebelah timur Khan Younis, kawasan selatan Jalur Gaza. Xinhua photo

    Baca: Laila Ghandour, Korban Termuda Palestina dalam Demonstrasi Gaza


    Pejabat PBB pada hari Sabtu mengutuk pembunuhan relawan medis di perbatasan Gaza, mengatakan bahwa laporan saksi mengindikasikan dia mengenakan pakaian yang secara jelas mengidentifikasi dirinya sebagai petugas medis.

    "Pembunuhan staf medis yang diidentifikasi secara jelas oleh pasukan keamanan selama demonstrasi sangat tercela," kata Jamie McGoldrick, Koordinator Kemanusiaan PBB setempat, seperti dilansir Times of Israel.

    Sementara menanggapi penembakan Razan al-Najjar, Utusan PBB untuk Timur Tengah, Nikolay Mladenov, menulis dalam Sabtu 2 Juni, bahwa "pekerja medis #NotATarget!" Dan "Israel perlu menurunkan penggunaan kekuatan dan Hamas perlu mencegah insiden di pagar perbatasan Gaza.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.