Korea Utara Peringatkan AS: Denuklirisasi Tidak Seperti Libya

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menandatangani buku tamu di sebelah Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, di dalam Gedung Perdamaian di desa Panmunjom di Zona Demiliterisasi, Korea Selatan, 27 April 2018. Kim Jong Un dan Moon Jae-In menandatangani pernyataan untuk mengakhiri perang Korea. (Korea Summit Press Pool via AP)

    Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menandatangani buku tamu di sebelah Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, di dalam Gedung Perdamaian di desa Panmunjom di Zona Demiliterisasi, Korea Selatan, 27 April 2018. Kim Jong Un dan Moon Jae-In menandatangani pernyataan untuk mengakhiri perang Korea. (Korea Summit Press Pool via AP)

    TEMPO.CO, Jakarta - Korea Utara memperingatkan Amerika Serikat bahwa  program denuklirisasi di Korea Utara tidak akan seperti yang terjadi di Libya. Denuklirisasi Libya yang dilakukan atas desakan Amerika Serikat berujung dengan kehancuran negara itu dan tewasnya Muammar Gaddafi.

    Libya membuat taruhan buruk ketika menukar program nuklirnya yang baru lahir demi keluar dari sanksi ekonomi negara-negara Barat. Libya secara sukarela menghentikan ambisi nuklirnya pada tahun 2003.

    Baca: Kim Jong Un Ancam Batalkan Pertemuan, Trump : Kami Masih Menunggu

    Amerika Serikat dan sekutu Eropanya memulai aksi militer melawan Libya untuk mencegah pembantaian yang dilakukan Gaddafi terhadap warga sipil. Gaddafi akhirnya digulingkan dalam kudeta yang didukung Barat dan dibunuh pada tahun 2011.

    Korea Utara sejak lama menghubungkan kejatuhan Libya dengan keputusan untuk menghentikan program nuklirnya atas desakan Amerika Serikat.

    Ketakutan untuk menemui nasib yang sama seperti Libya menjadi pertimbangan Korea Utara  selama bertahun-tahun.

    Pada 2011, setelah Amerika Serikat dan sekutu meluncurkan serangan udara di Libya, Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong-ho mengatakan denuklirisasi negara Afrika Utara itu telah menjadi taktik invasi untuk melucuti negara.

    Menurut Korea Utara, seandainya Gaddafi tidak menghentikan program nuklirnya,  kemungkinan dia hidup.

    AS-Cina Sepakati Denuklirisasi Korea Utara

    Baca: AS-Korsel Latihan Tempur, Korea Utara Ancam Batalkan KTT

    Pada 2016, tak lama setelah Korea Utara melakukan uji coba nuklir, kantor berita Korea Utara, KCNA, membuat referensi langsung ke Libya dan Irak.

    "Sejarah membuktikan penangkal nuklir yang kuat berfungsi sebagai pedang berharga terkuat untuk membuat frustrasi agresi asing," demikian tulis KCNA saat itu, seperti dilansir New York Times pada 17 Mei 2018.

    "Runtuhnya rezim Saddam Hussein di Irak dan Gaddafi di Libya tidak bisa lepas dari keputusan mereka untuk menghentikan pembangunan nuklirnya."

    Meskipun begitu, Korea Utara menegaskan kasusnya sedikit berbeda karena telah sukses membangun senjata nuklir dengan serangkaian uji coba yang berhasil dilakukan. Sementara Libya dan Irak belum sampai ke tahap yang dicapai Pyongyang.

    Baca: AS Ajukan Syarat Dialog, Korea Utara: Jangan Salah Menilai

    Korea Utara sejauh ini telah menguji enam senjata nuklir. Badan intelijen Amerika percaya, Korea Utara memiliki 20 hingga 60 lebih senjata nuklir serta rudal balistik antarbenua yang mampu menyerang Amerika Serikat.

    Hal itu memaksa Amerika Serikat menjatuhkan sanksi yang menghambat pertumbuhan ekonomi negara komunis itu. Sanksi yang akhirnya memaksa Kim Jong Un bersedia berunding dengan Trump pada 12 Juni mendatang di Singapura.

    Namun, dalam pernyataan melalui KCNA pada Rabu, 16 Mei 2018, Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara, Kim Kye Gwan mengatakan negaranya akan mempertimbangkan kembali pertemuan bersejarah itu  jika Amerika Serikat  bersikeras agar Pyongyang melepaskan senjata nuklirnya.

    CNBC|NEW YORK TIMES


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.