Inggris Akhirnya Izinkan Simbol Agama Dikenakan di Tempat Kerja

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang bayi dikalungi salib usai dibaptis dalam upacara pembaptisan massal di Katedral Tritunggal Mahakudus di Tbilisi, Georgia, 21 September 2017. REUTERS/David Mdzinarishvili

    Seorang bayi dikalungi salib usai dibaptis dalam upacara pembaptisan massal di Katedral Tritunggal Mahakudus di Tbilisi, Georgia, 21 September 2017. REUTERS/David Mdzinarishvili

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Inggris akan mengeluarkan panduan resmi baru untuk memastikan para penganut agama bebas mengenakan salib dan simbol iman lainnya saat bekerja.

    Panduan itu mengatakan, perusahaan yang tidak mematuhi aturan baru dapat didenda atau dipaksa membayar kompensasi.

    Baca: Inggris Larang Simbol Kristen Dikenakan di Tempat Kerja

    Panduan baru itu datang lima tahun setelah karyawan British Airways, Nadia Eweida memenangkan kasusnya terhadap maskapai penerbangan ketika dia diberitahu untuk menyembunyikan salibnya saat bekerja.

    Berbeda dengan Eweida, seorang perawat, Shirley Chaplin tidak memenangkan tantangan serupa. Dia telah diberitahu untuk berhenti mengenakan salibnya di rumah sakit karena membahayakan kesehatan dan keselamatan.

    Baca: Inggris Larang Sekolah Hanya Ajarkan Agama

    Victoria Atkins, Menteri urusan kejahatan, pengamanan dan kerentanan Inggris mengatakan, diskriminasi di tempat kerja tidak dapat diterima dan melanggar hukum.

    "Kami tidak akan mendukungnya," kata Atkins, seperti dilansir Daily Mail pada 13 Mei 2018.

    Baca: PM Inggris: ISIS Bukan Islam, tapi Monster

    Aturan itu sudah dapat diterapkan pada akhir bulan ini di seluruh Inggris. Perusahaan diharuskan fleksibel dan menunjukkan pemahaman terhadap berbagai agama.

    Mengomentari laporan tersebut, Gereja Inggris mengatakan itu adalah keputusan yang masuk akal.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.