Rabu, 26 September 2018

6 Negara Bertempur Besar-besaran di Suriah, untuk Apa?

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Selain mengalami gizi buruk, bocah 2,5 tahun ini juga tidak mendapatkan perawatan medis. Pemberontak yang menguasai kawasan timur Ghouta, menyebabkan warga tidak bisa mendapatkan bahan makanan yang memadai. REUTERS/Bassam Khabieh

    Selain mengalami gizi buruk, bocah 2,5 tahun ini juga tidak mendapatkan perawatan medis. Pemberontak yang menguasai kawasan timur Ghouta, menyebabkan warga tidak bisa mendapatkan bahan makanan yang memadai. REUTERS/Bassam Khabieh

    TEMPO.CO, Jakarta -Perang saudara di Suriah yang berawal tahun 2011 lalu semakin kompleks dan mengerikan. Jika awalnya Amerika Serikat dan sekutunya bertujuan menjatuhkan pemerintahan presiden Bashar al Assad dan kelompok teroris ISIS, maka memasuki tahun 2017 perang menjadi kompleks dan semakin mengerikan.

    Unicef dalam laporan terbarunya tidak menuliskan satu katapun karena kata-kata tak mampu lagi menggambarkan situasi mengerikan dari perang di Suriah.

    Baca: Unicef Tak Bisa Gambarkan Kengerian Perang Suriah

    Berikut 6 negara yang terlibat dalam perang di Suriah, termasuk apa peran dan  tujuan mereka bertempur di sana?

    1. Suriah
    Presiden Bashar al-Assad berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan menggandeng sejumlah kelompok pemberontak bersenjata atau milisi. Assad didukung Rusia dan Iran menghadapi oposisi yang didukung Amerika Serikat dan sekutunya, Turki, Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya.

    Assad tidak memiliki pasukan yang lengkap untuk membersihkan dan menguasai seluruh negara. Sementara milisi dukungan Amerika Serikat semakin kuat karena mendapat dukungan dari negara itu. Mengutip CNN, 2 April 2017, Menteri Luar Negeri Rex Tillerson mengatakan rakyat Suriah yang akan memutuskan status Assad.

    Presiden Bashar al-Assad berbincang dengan para tentara Suriah di sela waktu berbuka puasa di desa Marj al-Sultan, Damaskus, Suriah, 26 Juni 2016. Belum lama ini, tempat berbuka puasa tersebut telah direbut kembali oleh tentaranya di pinggiran Ghouta Timur di sebelah timur Damaskus. SANA via AP

    2. Amerika Serikat

    Presiden Barack Obama pada tahun 2014 menyatakan Assad harus keluar dan melepaskan jabatannya sebagai presiden Suriah. AS juga menggelar perang memberangus ISIS di Suriah dan Irak.

    AS berkoalisi dengan 60 negara sekutunya termasuk Jerman untuk mennyerang kelompok ekstrimis dengan serangan udara sejak akhir 2014. Amerika menghindari pertempuran langsung dengan pasukan pendukung Assad.

    Presiden Donald Trump melanjutkan kebijakan Obama untuk memmerangi ISIS di Suriah. Pada April tahun lalu, Presiden Donald Trump memerintahkan serangan udara ke pangkapan udara Suriah sebagai balasan kepada pemerintah Suriah yang dituding menggunakan senjata kimia menghadapi warga sipil.

    Apa tujuan Amerika Serikat dalam perang Suriah? Awalnya AS ingin menghancurkan ISIS di Suriah dan Irak. Setelah itu mendesak Assad untuk mundur dari jabatannya. Namun di masa pemerintahan Presiden Trump, sinyal memberi sinyal membingungkan apakah menolak kesepakatan damai untuk mempertahankan Assad. AS juga memblokade Iran dan milisi syiah Libanon, Hizbullah untuk secara permanen hadir di Suriah sehingga dapat mengancam Israel.

    Baca: Remaja Ini Rekam Kehancuran dari Perang Suriah: Dunia Harus Tahu

    3. Rusia
    Moskow telah lama mendukung pemerintahan Assad dan mempersenjatai pasukan pemerintah Suriah dengan persenjataan dan memberikan dukungan diplomatik dalam pembahasan damai di PBB. Rusia juga mengerahkan tentaranya ke Suriah.

    Rusia pertama kali terlibat di Suriah pada Oktober 2015 saat melakukan serangan udara menghadapi teroris.

    Apa tujuan Rusia? Moskow ingin Assad tetap berkuasa dan mengamankan pengaruhnya di kawasan itu.Suriah juga sekutu terdekat Rusia di Timur Tengah.

    Rusia juga memiliki pangkalan militer di Latakia dan pangkalan angkatan laut di kota pelabuhan Tartus. Para pemimpin Rusia mendukung perjanjian damai faksi-faksi moderat Suriah untuk mendukung Assad tetap memegang kekuasaan di negara itu. Dan, mendukung pemberian otonomi terbatas untuk beberapa pasukan oposisi di wilayah tertentu di Suriah.

    Pada Januari 2017, Rusia mensponsori pembicaraan antara pemerintah Suriah dengan oposisi di Astana, Kazakhstan. Iran dan Turki ikut serta dalam pembicaraan yang membahas pembentukan zona bebas konflik dan menjembatani pembicaranan politik.

    Seorang bocah memegang kertas bergambarkan karakter Pokemon serta tulisan "Saya terjebak di Douma di Timur Ghouta. Bantu aku!." Suriah, 22 Juli 2016. REUTERS

    4. Turki
    Sejak awal perang, Turki menjadi pendukung utama oposisi di Suriah. Turki bergabung dengna sejumlah faksi non Kurdi oposisi Suriah termasuk Angkatan Bersenjata Pembebasan Suriah atau FSA.

    Turki sebagai koalisi Amerika Serikat bertempur lewat udara memberangus target-target ISIS di Suriah.

    Secara sepihak, Turki juga menyerang pasukan Kurdi di utara Suriah dam mengirim pasukan angkatan daratnya memasuki wilayah Suriah untuk menyerang ISIS dan pasukan Kurdi.

    Apa tujuan Turki bertempur di Suriah? Turki ingin menghancurkan Krudi dan mencegah Kurdi mendapatkan otonomi setelah perang berakhir.

    Turki juga menuding tentara Kurdi Suriah sebagai bagian dari Partai Pekerja Kurdi atau PKK yang telah bertempur selama lebih dari tiga dekadar di Turki.

    Ankara juga ingin menghancurkan ISIS dan kelompok ekstrimis lainnya yang telah menyerang wilayah kedaulatan Turki.

    Akhir-akhir ini, sejumlah pemimpin Turki bersikap ambivalen apakah mendukung Assad untuk tetap jadi presiden Suriah atau melengserkannya.

    Baca: Perang Suriah: 'Rudal dan mortir dijatuhkan seperti hujan di Ghouta Timur'

    5. Iran
    Teheran mendukung pemerintahan Assad sejak tahun 2012, memberikan bantuan militer besar-besaran dan pelatihan kepada pasukan Assad. Iran bahkan mengirimkan pasukan elitnya, Garda Revolusi Islamic Iran dan milisi Syiah untuk bertempur di Suriah.

    Sekutu Iran di Libanon, Hizbullah menjadi pendukung utama Assad.

    Iran secara langsung maupun tidak langsung bertempur melawan faksi-faksi moderat maupun ekstrimis di kelompok oposisi Suriah termasuk ISIS.

    Apa tujuan Iran di Suriah? Suriah merupakan sekutu lama Iran di Timur Tengah. Mempertahankan Assad untuk melawan musuhnya, Israel dan Arab Saudi.

    Teheran juga membutuhkan Suriah untuk mengirimkan senjata ke Hizbullah, musuh Israel di Libanon. Untuk jangka panjang, Iran ingin memperluas wilayahnya dari Iran ke Libanon melalui Suriah dan Irak.

    6. Arab Saudi
    Kementerian Luar Negeri Arab Saudi sepenuhnya mendukung operasi militer AS di Suriah untuk membernagus ISIS dan rezim Assad.

    Arab Saudi merupakan sekutu AS terkuat di Timur Tengah dan pendukung utama sejumlah kelompok pemberontak bertempur melawan pemerintah Suriah dan ISIS.

    Apa tujuan  Arab Saudi ikut berperang di Suriah? Riyadh telah lama berusaha melengserkan Assad dari kekuasaannya di Suriah.

    CNN/DEUTSCHE WELLE | NEW YORK TIMES 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Karen Agustiawan Ditahan Karena Akuisisi Pertamina di Blok BMG

    Kejaksaan Agung menahan mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan terkait kasus dugaan korupsi investigasi Pertamina berupa akuisisi aset BMG.