Diduga Korupsi, Arab Saudi Lanjutkan Penangkapan Pangeran Lain

Reporter:
Editor:

Choirul Aminuddin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Putra Mahkota Mohammed bin Salman memimpin lembaga anti korupsi yang baru dibentuk. Kampanye antikorupsi inimerupakan bagian dari upaya konsolidasi Mohammed bin Salman, yang merupakan penasihat utama Raja Salman. AFP/FAYEZ NURELDINE

    Putra Mahkota Mohammed bin Salman memimpin lembaga anti korupsi yang baru dibentuk. Kampanye antikorupsi inimerupakan bagian dari upaya konsolidasi Mohammed bin Salman, yang merupakan penasihat utama Raja Salman. AFP/FAYEZ NURELDINE

    TEMPO.CO, Jakarta - Tindakan tegas Putra Mahkkota Mohammed bin Salman menahan para tersangka korupsi di Arab Saudi berlanjut. Pada Rabu, 8 November 2017, Mohammed membekukan lagi aset para terduga korupsi senilai US$ 800 miliar atau sekitar Rp 10.800 trilun.

    Menurut laporan kantor berita Reuters setelah mengutip sejumlah sumber dekat keluarga Kerajaan, tindakan tersebut sebagai lanjutan dari penahanan pada akhir pekan lalu terhadap beberapa pangeran, pejabat tinggi negara dan pengusaha yang disangka korupsi. Para tersangka itu sekarang ini ditahan di sebuah hotel mewah. Beberapa media melaporkan mereka ditahan di Hotel Rizt Carlton.

    Baca: Korupsi, Arab Saudi Menahan Pangeran dan Pecat Menteri
    Pangeran Alwaleed Bin Talal saat masih bersama istrinya, Putri Ameera, dalam pertemuan dengan Pangeran Charles, di London, 2 November 2010. Meski telah bercerai namun keduanya masih berhubungan baik. Bahkan keduanya dikenal secara terbuka mendukung hak perempuan, termasuk untuk mengemudi jauh sebelum Kerajaan Saudi memberi izin. AFP PHOTO

    "Tindakan itu akan menyasar ratusan orang. Sejauh ini yang sudah ditahan 60 orang, sementara lebih dari 1.700 rekening bank telah dibekukan," tulis Breitbart dalam laporannya Kamis, 9 November 2017.

    Media Inggris, Daily Mail, melaporkan, salah satu yang baru ditahan itu adalah Naser bin Aqeel al-Tayyar, salah satu pendiri perusahaan perjalan terbesar di Arab Saudi.

    Reuters mencatat bahwa para tersangka yang ditahan itu terkait spekulasi informasi Putra Mahkota Mohammed bin Salman ingin memperkut posisinya atau benar-benar mengikis korupsi di Arab Saudi.

    Financial Times mengutip pernyataan salah seorang anggota Komite Antikorupsi Khalid al-Mehaisen mengatakan, para tersangka itu diikuti jejaknya selama tiga tahun.

    "Komite memiliki kewenangan mengetahui rekening bank para tersangka, membekukan aset, keuangan dan mengambil tindakan yang diperlukan," kata Khalid seperti dikutip Financial Times.Nasser bin Aqeel Al Tayyar . altayyargroup.com

    Dalam catatan Financial Times, kerajaan bisnis Pangeran Alwaleed bin Talal di bawah bendera Kingdom Holding Company yang memiliki aset senilai US$ 12,5 miliar atau sekitar Rp 170 tiliun terpukul sejak ada kabar dia ditahan lantaran tudingan korupsi.

    Baca: Pangeran Alwaleed, Miliader Arab yang Ditangkap karena Korupsi

    "Sayangnya sumber di Arab Saudi tak bersedia menyebutkan angka kerugian kerajaan bisnis Alwaleed," tulis Financial Times.

    BREIBART


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?