Keponakan Sebut Donald Trump Kesal karena Angela Merkel Lebih Pintar Darinya

Senin, 3 Agustus 2020 17:00 WIB

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbincang dengan Kanselir Jerman, Angela Merkel saat berkunjung ke Gedung Putih di Washington, Amerika Serikat, 17 Maret 2017. REUTERS

TEMPO.CO, Jakarta - Keponakan perempuan Presiden Donald Trump mengklaim pamannya benci ketika mengetahui Kanselir Jerman Angela Merkel lebih pintar daripada dirinya.

Keponakan Donald Trump, Mary Trump, mengatakan ini kepada DPA dalam wawancara menjelang rilis bukunya yang berjudul "Too Much and Never Enough: How My Family Created the World's Most Dangerous Man" pada 12 Agustus di Jerman. Buku ini menceritakan Donald Trump dari sudut pandang keluarganya sendiri.

"Perempuan itu bisa mengunggulinya (Donald Trump) secara intelektual, dan saya pikir dia membencinya. Dan itu membuatnya kesal," kata Mary Trump kepada DPA, 3 Agustus 2020.

Keponakan Presiden Donald Trump itu percaya bahwa hubungannya yang sulit dengan Jerman sebagian karena fakta bahwa Angela Merkel adalah perempuan yang kuat. "Dan Donald tidak cocok dengan perempuan kuat," kata Mary Trump kepada kantor berita DPA.

Seperti diketahui, akhir-akhir ini hubungan Donald Trump dengan sekutu dekat AS di Eropa sedang surut. Pada akhir Juli Reuters melaporkan militer AS mengumumkan akan menarik sekitar 12.000 tentara AS dari Jerman, sebagai akibat dari perseteruan lama Presiden Donald Trump dengan Berlin.

Advertising
Advertising

Trump mengumumkan niatnya pada Juni untuk memotong sekitar sepertiga dari 36.000 pasukan AS di Jerman, menyalahkan Jerman karena gagal memenuhi target belanja pertahanan NATO dan menuduhnya mengambil keuntungan dari Amerika Serikat dalam perdagangan.

Buku "Too Much and Never Enough" oleh Mary Trump dipotret di toko buku di New York, 14 Juli 2020.[REUTERS/Carlo Allegri]

Mary Trump, psikolog klinis berusia 55 tahun, juga mengatakan perilaku Presiden Trump dalam menangani krisis virus corona terkait dengan sejarah keluarga. Ada suasana di rumah kakeknya di mana tidak diizinkan untuk mengekspresikan sesuatu yang negatif, kata Mary Trump.

Mengkoreksi diri sendiri berarti mengakui kesalahan, kata Mary. "Dan dia tidak mampu melakukan itu, karena di keluarga saya itu dianggap lemah jika meminta maaf atau mengakui bahwa kamu salah."

Di dalam bukunya, Mary Trump memperingatkan demokrasi Amerika akan berakhir jika pamannya terpilih kembali pada November. "Saya seorang demokrat liberal," kata Mary Trump dan mengatakan akan memilih pesaing Trump, Joe Biden.

Dalam wawancara dengan Spiegel, Mary Trump menggambarkan kekuatan Donald Trump sebagai sesuatu yang sangat berbahaya. "Paman saya jelas tidak memiliki kapasitas intelektual atau kontrol impuls untuk dipercaya."

Dia mengatakan kepada Spiegel tentang motivasinya untuk menerbitkan buku sekarang, "Saya tidak ingin pemilih mengulang kesalahan di 2016." Dia tidak ingin ada yang memilih pada pilpres November dan berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Dia ingin publik tahu sebelum pemilu 2016, tetapi dia tahu bahwa laporannya tidak relevan. "Tidak ada yang akan mendengarkan saya."

Mary Trump.[CNN]

Mary Trump adalah putri saudara laki-laki tertua Donald Trump, Fred, yang meninggal pada 1981. Bukunya yang sangat terkenal telah diterbitkan di Amerika Serikat pada pertengahan Juli tahun ini. Adik laki-laki Donald Trump, Robert Trump, gagal meminta perintah pengadilan New York untuk menghentikan publikasi buku Mary Trump.

Pada 17 Juli, Donald Trump buka suara atas buku yang ditulis keponakannya.

"Mary Trump, keponakan yang jarang terlihat yang tahu sedikit tentang saya, mengatakan hal-hal yang tidak benar tentang orang tua saya yang luar biasa (yang tidak tahan dengannya!) Dan saya, dan melanggar NDA-nya (Non-disclosure Agreement/Larangan Pengungkapan Informasi Rahasia)," tulis Trump di Twitter, dikutip dari Politico.

"Dia kacau! Banyak buku telah ditulis tentang saya, ada yang bagus, ada yang jelek. Baik senang maupun sedih, akan ada lagi yang bakal muncul!" twit Trump.

Sekretaris Pers Gedung Putih Kayleigh McEnany menyebut buku Mary Trump sebagai karya fiksi oportunistik dan menyatakan bahwa presiden memiliki hubungan yang erat dengan orang tuanya, Reuters melaporkan.

Buku Mary Trump bukanlah buku pertama yang mengkritik Donald Trump, tetapi buku ini unik karena berisi perspektif dalam keluarga Donald Trump.

Keluarga Trump mencoba menuntut untuk menghentikan rilis buku itu, mengutip perjanjian keuangan keluarga dari tahun 2001 sebagai alasan untuk menghentikan Mary Trump dan penerbitnya, Simon & Schuster, untuk menerbitkan atau mendiskusikan buku itu. Tetapi pengadilan negara bagian New York memutuskan bahwa penerbit bebas untuk merilis buku Donald Trump yang dilakukan awal minggu ini, dan Mary Trump diizinkan pengadilan mendiskusikan dan mempublikasikan karyanya ke media.

Berita terkait

Donald Trump Memuji Penggerebekan Unjuk Rasa Pro-Palestina oleh Polisi New York

1 hari lalu

Donald Trump Memuji Penggerebekan Unjuk Rasa Pro-Palestina oleh Polisi New York

Donald Trump memuji polisi New York yang menggerebek unjuk rasa pro-Palestina di Universitas Columbia.

Baca Selengkapnya

Terancam Dipenjara, Trump Dijatuhi Denda Rp146 Juta karena Langgar Perintah Pembungkaman

2 hari lalu

Terancam Dipenjara, Trump Dijatuhi Denda Rp146 Juta karena Langgar Perintah Pembungkaman

Hakim yang mengawasi persidangan pidana uang tutup mulut Donald Trump mendenda mantan presiden Amerika Serikat itu sebesar US$9.000 atau karena Rp146

Baca Selengkapnya

Aktivis Lingkungan Aeshnina ke Kanada Minta Justin Trudeau Hentikan Ekspor Sampah Plastik ke Indonesia

11 hari lalu

Aktivis Lingkungan Aeshnina ke Kanada Minta Justin Trudeau Hentikan Ekspor Sampah Plastik ke Indonesia

Aktivis lingkungan Aeshnina Azzahra Aqilani co Captain Riverin minta PM Kanada Justin Trudeau hentikan impor sampah plastik ke Indonesia.

Baca Selengkapnya

Donald Trump Salahkan Joe Biden atas Serangan Iran ke Israel

17 hari lalu

Donald Trump Salahkan Joe Biden atas Serangan Iran ke Israel

Donald Trump menilai saat ini adanya kurangnya kepemimpinan Joe Biden hingga membuat Tehran semakin berani

Baca Selengkapnya

Trump Tolak Undangan Zelensky, Menilai Tak Pantas Kunjungi Ukraina

22 hari lalu

Trump Tolak Undangan Zelensky, Menilai Tak Pantas Kunjungi Ukraina

Bekas Presiden AS Donald Trump menolak undangan Presiden Volodymyr Zelensky untuk menyambangi Ukraina.

Baca Selengkapnya

Berusia 75 Tahun, NATO Hadapi Sejumlah Ancaman, Termasuk Trump

28 hari lalu

Berusia 75 Tahun, NATO Hadapi Sejumlah Ancaman, Termasuk Trump

Sekjen NATO mendesak Amerika Serikat tetap bersatu dengan Eropa, meski seandainya Donald Trump kembali berkuasa di Gedung Putih

Baca Selengkapnya

Joe Biden Vs Donald Trump, Dua Lelaki Gaek Berebut Kursi Presiden AS

31 hari lalu

Joe Biden Vs Donald Trump, Dua Lelaki Gaek Berebut Kursi Presiden AS

Joe Biden 81 tahun dan Donald Trump 78 tahun akan bertarung di kontestasi pemilihan Presiden AS di usia yang tak lagi muda.

Baca Selengkapnya

Top 3 Dunia: Tanding Ulang Joe Biden vs Donald Trump, Kekecewaan Keturunan Arab di AS

33 hari lalu

Top 3 Dunia: Tanding Ulang Joe Biden vs Donald Trump, Kekecewaan Keturunan Arab di AS

Top 3 dunia adalah Joe Biden akan bertanding ulang melawan Donald Trump di Pilpres AS hingga masyarakat Arab di Amerika Serikat kecewa.

Baca Selengkapnya

Saling Serang Calon Presiden AS: Joe Biden Ungkit Pemutih sebagai Obat, Donald Trump: Jika Tak Menang, Demokrasi Berakhir

34 hari lalu

Saling Serang Calon Presiden AS: Joe Biden Ungkit Pemutih sebagai Obat, Donald Trump: Jika Tak Menang, Demokrasi Berakhir

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, menyindir Donald Trump, yang akan menjadi pesaingnya lagi dalam pemilihan presiden AS yang akan datang pada bulan November.

Baca Selengkapnya

Tanding Ulang Joe Biden Vs Donald Trump, Begini Sistem Pemilu Presiden di Amerika Serikat

34 hari lalu

Tanding Ulang Joe Biden Vs Donald Trump, Begini Sistem Pemilu Presiden di Amerika Serikat

Pada pemilihan Presiden AS, Joe Biden akan tanding ulang dengan Donald Trump. Bagaimana sistem pemilu di Amerika Serikat?

Baca Selengkapnya