Memperkenalkan Indonesia Kontemporer Lewat Karya Riri Riza

Senin, 21 November 2016 | 12:21 WIB
Memperkenalkan Indonesia Kontemporer Lewat Karya Riri Riza
Riri Riza, Nicholas Saputra dan Sissy Priscilllia dalam konferensi pers Festival Film Indonesia 2016 di Utrecht, Belanda, 17 November 2016. (Foto: KBRI Den Haag)

TEMPO.CO, Utrecht - Antrean panjang tampak di  ruangan depan gedung bioskop Wolff Hoog Chatarijn di Utrecht, Belanda, Kamis malam, 17 November 2016. Beragam usia mulai anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan para senior. 

Sejumlah tokoh film Indonesia dengan senang hati meladeni mereka berfoto bersama. Ada Riri Riza, Nicholas Saputra dan Sissy Priscillia. Malam itu, Riri, Nico dan Sissy menemui para penggemarnya di Belanda.   Mereka mengikuti pemutaran film “Ada Apa Dengan Cinta 2”, sesi tanya jawab dengan penonton dan media gathering.

Ketiga insan perfilman Indonesia itu berada di Utrecht, Belanda, berkenaan dengan penyelenggaraan “Indonesian Film Festival 2016.” Acara yang digelar Kedutaan Republik Indonesia di Den Haag, bekerjasama dengan Rumah Budaya Indonesia, Mata Hari Media, Jakpro, Cikarang Listrindo, Blanco Coffee Yogya dan didukung oleh Miles Films pada 17 – 20 November 2016.

Menurut Azis Nurwahyudi, Minister Counsellor bidang Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Den Haag, Indonesian Film Festival digelar untuk memperkenalkan kultur sinema Indonesia beserta sejarahnya, pertumbuhannya, tantangan-tantangannya dan perkembangannya.

“Pergelaran ini merupakan yang kedua, setelah yang pertama pada musim gugur tahun lalu, yang mengangkat film-film karya Nia Dinata,” kata Azis lewat rilis yang diterima Tempo, Sabtu, 19 November 2016.



Tahun ini, Indonesian Film Festival di Belanda mengangkat tema “Contemporary Indonesia – Cinema of Riri Riza. Sejumlah karya besar Riri dipertontonkan kepada khalayak Belanda, seperti “Ada Apa Dengan Cinta 2”, “Drupadi”, “Atambua 390C” dan “Athirah”. Pergelaran di Belanda ini juga menandai 15 tahun karier Riri dalam dunia perfilman.

Pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 46 tahun lalu ini lulus dari Departemen Film, Institut Kesenian Jakarta dan meraih gelar masternya di Royal Holloway University di London.

Filmnya, “Eliana Eliana” memenangkan penghargaan Young Cinema Award dan FIPRESCI pada Festival Film Internasional di Singapura pada 2002. Film ini juga memenangkan The Special Jury prize di Festival Film Internasional di Vancouver. Setelah itu, penghargaan demi penghargaan diraih Riri lewat karya-karya apik berikutnya.

Untuk festival ini, Riri telah mempersiapkan selama setahun, sehingga bisa memunculkan karya terbarunya, seperti “Athirah” yang meraih penghargaan Piala Citra 2016 sebagai film terbaik.

“Saya merasa ini merupakan kesempatan yang sangat luar biasa untuk perfilman Indonesia, dan khususnya untuk saya pribadi. Sebab, saya dilibatkan dari awal proses – dari formatnya sampai ke proses pemilihan film dan penyusunan program,” kata Riri.

“Sebagai pembuat film,” kata Riri lagi, “kegiatan ini sangat menarik untuk refleksi atas karya-karya saya. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk promosi film Indonesia.” 



 





Pada malam pembukaan Indonesian Film Festival 2016, hadir sekitar 250 tamu undangan, termasuk tamu-tamu dari kalangan diplomatik, pejabat pemerintah Belanda, mitra kerja KBRI, industri film serta pers Belanda.

Acara dibuka pada 18.30 oleh Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Den Haag, Ibnu Wahyutomo. Dalam sambutannya, Ibnu mengatakan bahwa, seperti Indonesia Jazz Night beberapa waktu, Indonesian Film Festival ini juga digelar untuk memperkenalkan situasi Indonesia terkini.

“Kegiatan ini untuk menunjukkan bahwa generasi sekarang di Indonesia tak hanya piawai bermain angklung atau gamelan, tapi juga pintar bermain jazz dan membuat film,” kata Ibnu.

“Lewat film-film yang diputar dalam Indonesian Film Festival ini, publik Belanda –terutama anak-anak mudanya-- bisa melihat Indonesia yang sudah memiliki wajah baru, Indonesia sekarang yang modern.”

Film-film yang diputar selama empat hari di gedung bisokop Wolff Hoog Catharijn, memberi gambaran kepada pemirsa Belanda soal masyarakat kontemporer Indonesia. Film-film itu juga merupakan jendela yang baik untuk melihat keindahan kultur dan alam Indonesia.

“Tak hanya keindahan kota Yogyakarta, yang dimunculkan dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2,” kata Riri Riza. “Tapi, juga keindahan alam dan kultur Indonesia Timur, seperti Nusa Tenggara Timur, dalam film Atambua 39 derajat Celcius,” tambah dia.



 





Pembuat film Belanda, Josscy Vallazza Aartsen, memuji penyelenggaraan festival,  sebagai ajang untuk mengetahui pertumbuhan industi film Indonesia saat ini.

“Selain film-film yang diputar milik sutradara berkualitas, Utrecht juga merupakan tempat yang sangat bagus untuk penyelenggaraan acara ini,” kata Josscy  yang hadir di acara pembukaan dan menonton “Ada Apa Dengan Cinta 2”.

Selain, menjadi kota pelajar dan tempat universitas-universitas besar serta prestisus di Belanda, di Utrecht juga ada HKU School of Arts. Penyelenggaraan festival film Indonesia di kota ini diharapkan bisa menarik minat mahasiswa HKU.

“Saya berharap akan ada lebih banyak film Indonesia diputar di Belanda,” kata Josscy. “Tak hanya dalam event seperti ini, tapi juga dalam event-event lain yang lebih besar.”

Dia yakin dengan banyaknya film-film Indonesia yang berkualitas diputar di Belanda, akan menjadi kesempatan bagi sutradara-sutradara serta talenta bagus di dunia perfilman Indonesia untuk lebih dikenal di Negeri Kincir Angin itu.

“Harapan lain saya adalah adanya proyek kerjasama antara Indonesia dan diaspora Indonesia di Belanda,” kata Josscy.  

NATALIA SANTI

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan