Hubungan Turki-Uni Eropa Memburuk

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Barack Obama (kiri) dan Kanselir Jerman Angela Merkel. (AP Photo/dpa, Michael Kappeler)

    Presiden Barack Obama (kiri) dan Kanselir Jerman Angela Merkel. (AP Photo/dpa, Michael Kappeler)

    TEMPO.COJakarta - Hubungan Turki dengan Uni Eropa kian buruk setelah terjadi kudeta gagal, 15 Juli 2016. Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menuding Uni Eropa telah mempermalukan Turki terkait dengan visa untuk alasan membendung pendatang. Hal itu disampaikan Cavusoglu dalam wawancara dengan koran Jerman, Bild.

    "Masyarakat Turki trauma akibat kudeta 15 Juli 2016," kata Cavusoglu kepada koran Bild terbitan Senin, 15 Agustus 2016. "Alih-alih membantu Turki, bangsa Eropa justru mempermalukan kami," ucapnya.

    Hubungan Uni Eropa-Turki terjun bebas sejak ada kudeta perlawanan terhadap Presiden Recep Tayyip Erdogan. Menurut Uni Eropa, Turki terlalu keras membungkam para tersangka kudeta, termasuk pemecatan terhadap lebih dari 2.000 militer.

    Turki dengan nada geram menolak kritik Uni Eropa ketika petugas keamanan negara mengejar para tersangka pelaku kudeta. Menurut Uni Eropa, cara-cara yang ditempuh Turki telah melanggar hak asasi manusia, yang semestinya dijunjung tinggi oleh Turki bila ingin bergabung dengan blok Eropa tersebut.

    Cavusoglu menegaskan, negaranya telah menerapkan prinsip-prinsip sebagaimana dilakukan banyak negara, termasuk memenuhi persyaratan yang diminta Uni Eropa. "Namun yang diperoleh Turki hanyalah ancaman, hinaan, dan blokade dari 28 negara."

    Dia melanjutkan, "Saya bertanya dalam hati, kejahatan apa yang telah kami lakukan, mengapa mereka memusuhi kami?"

    AL ARABIYA | CHOIRUL AMINUDDIN  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.