Buntut Kudeta, 100 Staf Rumah Sakit Militer Turki Ditahan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota militer Turki memblokade jembatan Bosphorus, yang menghubungkan Asia dan Eropa, pada saat melakukan kudeta, 15 Juli 2016. REUTERS/Stringer

    Anggota militer Turki memblokade jembatan Bosphorus, yang menghubungkan Asia dan Eropa, pada saat melakukan kudeta, 15 Juli 2016. REUTERS/Stringer

    TEMPO.CO, Ankara - Pemerintah Turki mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap 100 staf kesehatan, termasuk dokter di sebuah rumah sakit militer utama di Ankara, Selasa, 2 Agustus 2016.

    Ini bagian dari penyelidikan yang dilakukan pemerintah guna menindaklanjuti upaya kudeta oleh kelompok militer yang digagalkan, 15 Juli lalu.

    Seperti dilansir Al Arabiyah , media lokal NTV, melaporkan polisi melancarkan serangan di Akademi Kedokteran Militer Gulhane (GATA) di Ankara. Sejauh ini belum ada laporan soal tersangka yang sudah ditangkap.

    Sebelumnya, seorang pejabat Turki juga menegaskan bahwa surat penahanan telah dikeluarkan tanpa memberikan jumlah pasti.

    Pejabat yang tidak ingin identitasnya diungkapkan itu mengatakan bahwa staf di rumah sakit tersebut diduga membantu pendukung Gulen yang bergabung dalam militer dengan memberikan laporan medis yang menguntungkan.

    "GATA sangat penting karena ini adalah tempat laporan kebugaran dan kesehatan calon anggota militer dikeluarkan," kata pejabat tersebut.

    Seperti halnya pemerintah Turki, pejabat tersebut juga menyalahkan upaya kudeta gagal pada organisasi yang didirikan Fethullah Gulen (Feto) yang berbasis di Amerika Serikat.

    "Ada bukti kuat yang menunjukkan anggota Feto menyusup ke lembaga ini untuk memperlambat kemajuan karier dari saingan mereka dalam militer."

    Klaim serupa juga telah dibuat terhadap sekolah militer di mana para pejabat mengatakan telah terjadi kecurangan dalam ujian masuk. Hampir setengah dari jenderal Turki diklaim berada di belakang kudeta.

    Upaya kudeta untuk menggulingkan Presiden Recep Tayyip Erdogan pada 15 Juli lalu dilaporkan telah mengakibatkan Turki merugi sebesar US$ 100 miliar atau Rp 1.300 triliun.

    Koran Hurriyet mengutip Menteri Perdagangan Bulent Tufenkci yang mengatakan jumlah kerugian kemungkinan akan meningkat lagi. Tapi ia menegaskan ekonomi Turki masih berada dalam keadaan stabil.

    AL ARABIYAH | STRAITS TIMES | CHANNEL NEWS ASIA | YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.