185 Aktivis Lingkungan Tewas Dibunuh Tahun 2015  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa yang tergabung dalam aliansi Sedulur Tunggal Roso melakukan aksi solidaritas terhadap pembunuhan  petani penolak tambang pasir Lumajang bernama Salim (52) alias Kancil yang terjadi pada Sabtu 26 September 2015 di depan Gedung DPRD Kota Malang, 28 September 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Massa yang tergabung dalam aliansi Sedulur Tunggal Roso melakukan aksi solidaritas terhadap pembunuhan petani penolak tambang pasir Lumajang bernama Salim (52) alias Kancil yang terjadi pada Sabtu 26 September 2015 di depan Gedung DPRD Kota Malang, 28 September 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Jumlah pembunuhan terhadap aktivis lingkungan hidup mencatatkan rekor pada 2015. Berdasarkan laporan Global Witness, setidaknya tercatat 185 aktivis lingkungan hidup telah dibunuh pada tahun lalu. Hal itu meningkat 60 persen dari tahun sebelumnya sekaligus menjadi rekor angka kematian aktivis tertinggi per tahun.

    Billy Kyte, juru kampanye senior untuk Global Witness, mengatakan pembunuhan ini sejalan dengan meningkatnya permintaan barang tambang, kayu, dan minyak kelapa sawit.

    Pemerintah, perusahaan, dan kelompok-kelompok kriminal merebut tanah warga yang tinggal di atasnya dengan paksaan. "Warga yang melawan menjadi sasaran tembak petugas keamanan perusahaan, aparat, dan pembunuh bayaran," ucapnya, seperti dilansir Guardian, Selasa, 21 Juni 2016.

    Kyte menuturkan tiap pembunuhan didokumentasikan, tapi banyak yang tidak dilaporkan. "Pemerintah harus segera turun tangan mengatasi kekerasan ini," ujarnya.

    Global Witness telah mendokumentasikan beberapa serangan mematikan di 16 negara. Brasil menjadi yang terparah dan menyebabkan 50 kematian. Banyak di antara mereka yang terbunuh adalah aktivis yang berusaha memerangi pembalakan liar di Amazon.

    Filipina menjadi negara kedua terbanyak dengan total 33 kematian, disusul Kolombia dengan 26 kematian, Peru (12), Nicaragua (12), dan Republik Demokratik Kongo (11).

    Kyte memaparkan, industri yang paling mematikan bagi mereka yang menentang adalah perusahaan pertambangan. Tercatat 42 kematian pada 2015 akibat aksi menolak aktivitas pertambangan.

    Ada pula industri agribisnis, bendungan tenaga listrik, dan pembalakan. Global Witness menemukan banyak dari pembunuhan tersebut terjadi di desa-desa terpencil jauh di dalam hutan hujan tropis.

    Di Brasil, ribuan kamp pembalakan liar telah dibentuk dan banyak menebang kayu-kayu keras dan berharga, seperti mahoni, kayu hitam, dan jati. Diperkirakan 80 persen kayu dari Brasil adalah ilegal dan menyumbang 25 persen dari kayu ilegal di pasar global.

    AHMAD FAIZ | GUARDIAN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.