Muhammad Ali Wafat: Erdogan & Raja Abdullah Hadiri Pemakaman  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan Joe's Pizza membuat lokasi peringatan bagi petinju Muhammad Ali di dekat lukisan muralnya di New York, 4 Juni 2016.  REUTERS/Lucas Jackson

    Karyawan Joe's Pizza membuat lokasi peringatan bagi petinju Muhammad Ali di dekat lukisan muralnya di New York, 4 Juni 2016. REUTERS/Lucas Jackson

    TEMPO.CO, Louisville - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, berencana menghadiri upacara pemakaman petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, di Louisville, Amerika Serikat, Jumat, 10 Juni 2016.

    Juru bicara keluarga Muhammad Ali, Bob Gunnel, mengumumkan kedatangan dua kepala negara itu saat mengungkapkan secara rinci butir upacara pemakaman di kota kelahiran Muhammad Ali tersebut.

    BACA: Muhammad Ali: 14 Momen yang Menjadikannya si Terhebat!

    Keranda yang membawa jenazah juara tiga kali tinju kelas berat itu sudah berada di Louisville. Keranda akan diarak melalui jalan raya, Jumat, sehingga penggemar di seluruh dunia dapat memberi penghormatan terakhirnya.

    Di Turki, sumber Istana Kepresidenan memastikan kedatangan Erdogan. "Kami mengkonfirmasi presiden akan ke Louisville untuk memberi penghormatan terakhir kepada Ali. Dia berangkat pada Rabu."

    BACA: Muhammad Ali, si Mulut Besar yang Suka Pesta Ulang Tahun

    Menurut panitia penyelenggara, Presiden Erdogan meminta untuk berpidato dalam acara tersebut. Kabar lainnya, Raja Abdullah dari Yordania juga akan menghadiri acara itu.

    Seperti yang dilansir Washington Times pada 6 Juni 2016, pemimpin Tibet, Dalai Lama, dilaporkan juga mendapat undangan dari pihak keluarga Muhammad Ali, namun dia meminta maaf karena tidak bisa hadir.

    BACA: Doa-doa Islam Iringi Tarikan Napas Terakhir Muhammad Ali

    Sementara itu, imam dan ulama dari California, Zaid Shakir, akan memimpin upacara pemakaman.

    Ali tidak saja dikenal karena karier olahraganya, tapi juga karismanya dalam memperjuangkan hak. Ia meninggal dunia Jumat lalu pada usia 74 tahun setelah mengalami masalah kesehatan yang tambah parah akibat penyakit Parkinson yang ia derita selama 32 tahun.

    HAREETZ | WASHINGTON TIMES | YON DEMA

    BACA JUGA
    Kisah Kucing Bangunkan Jemaah untuk Salat Jadi Mendunia
    Inilah Hadiah Istimewa Murid TK yang Bikin Gurunya Terkejut


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.