Dua Kebiasaan Unik Siswa SMA di Cina Atasi Stres Seusai Ujian

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/ Imam Yunni

    TEMPO/ Imam Yunni

    TEMPO.CO, Beijing - Biro pendidikan Xiamen, Cina memberlakukan aturan baru terhadap siswa SMA yang baru selesai ujian. Aturan baru itu isinya melarang siswa melakukan kebiasaan merobek buku tulis mereka dan berteriak-teriak di lorong sekolah.

    Peraturan yang diterapkan oleh Dinas Pendidikan Xiamen muncul 10 hari sebelum ujian nasional masuk perguruan tinggi (Gakao).

    Para siswa di Cina biasa merobek buku mereka dan berteriak keras di lorong sekolah dengan tujuan mengurangi stres sehabis ujian.

    Pejabat pendidikan Xiamen mewajibkan sekolah menggunakan cara yang lebih sehat sebagai ganti kebiasaan merobek buku dan berteriak-teriak. Misalnya, dengan menyediakan psikolog untuk membantu siswa mengurangi stres akibat ujian.

    Dalam jajak pendapat di situs Cina, Sina, sebanyak 51 persen responden mengatakan mereka tidak mendukung larangan tersebut. Alasannya, buku-buku itu milik siswa. Jadi, terserah mereka apa yang mereka ingin lakukan dengan buku itu.

    Siswa juga tidak mungkin merobek buku teks mereka sebelum ujian. Mereka hanya merobek kertas bekas.

    Pendapat berbeda mendukung larangan itu. Alasannya, merobek kertas atau buku merupakan pemborosan sumber daya dan menambahkan bahwa buku bisa diberikan kepada teman sekelas lain atau dijual sebagai gantinya.

    Ujian masuk perguruan di Cina dikenal sangat ketat dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Jack Ma, pendiri perusahan raksasa jual-beli online Cina, Alibaba, harus tiga kali mengikuti ujian untuk masuk ke universitas.

    Ujian masuk perguruan tinggi juga telah dikritik karena mengarah ke budaya hafalan, sehingga para pesertanya bekerja keras memeras otak yang ujung-ujung dapat menyebabkan stres berat. Dalam tingkat stres akibat Gakao yang paling ekstrem adalah bunuh diri.

    BBC | YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.