Kuli Bangunan Ikat Anak di Batu karena Tak Bisa Bayar Baby-Sitter  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang buruh anak berada di pertambangan batu bara tradisional Jharia. Pekerjaan ini sangat berbahaya bagi anak-anak, terutama mereka diupah dengan sangat rendah untuk pekerjaan yang sangat berat. Jharia, India. Jonas Gratzer/Getty Images

    Seorang buruh anak berada di pertambangan batu bara tradisional Jharia. Pekerjaan ini sangat berbahaya bagi anak-anak, terutama mereka diupah dengan sangat rendah untuk pekerjaan yang sangat berat. Jharia, India. Jonas Gratzer/Getty Images

    TEMPO.CO, New Delhi - Sepasang suami-istri mengaku terpaksa mengikat anaknya yang masih kecil di tiang konstruksi di tempat kerjanya. Perbuatan tersebut dilakukan karena mereka tidak mampu membayar pengasuh ataupun jasa penitipan anak.

    Kedua warga asal India itu mengaku tidak ada pilihan. Mereka tak mampu mengirim Shivani yang baru berusia 15 bulan ke tempat penitipan anak dan kakaknya yang berusia 3 tahun juga tidak mampu menjaga dan mengawasi adiknya itu.

    Baca juga:
    Heboh Kontribusi Reklamasi: Tiga Skenario Nasib Ahok
    Dea Mirella: Aku Hancur, Menangis Tiap Dengar Suara Bayi

    Anak-anak itu terpaksa diikat di tiang batu untuk mencegah mereka bermain dan melintas ke jalan raya di kota yang terletak di wilayah barat India tersebut. Anak-anak itu terpaksa menghabiskan sembilan jam di bawah suhu 40 derajat Celsius.

    Kedua anak itu diikat dengan pita di sebuah batu. "Saya mengikatnya. Jadi, dia tidak akan berlari ke jalan raya di dekat situ. Anak sulung baru berusia 3,5 tahun. Jadi, dia tidak mampu memantau adiknya itu," kata ibu anak tersebut, Sarta Kalara.

    "Lalu lintas di daerah ini sangat ramai. Jadi, saya tidak ada pilihan. Ini untuk keselamatannya. Dia dan suaminya bekerja menggali lubang untuk kabel listrik di Kota Ahmedabad dan mendapat upah 250 rupe.

    Di India, sekitar 40 juta pekerja bangunan mengais rezeki di kota-kota yang berkembang pesat. Satu dari lima pekerja itu adalah wanita yang mayoritas adalah pendatang miskin.

    Di India, anak-anak terlihat bermain-main tanpa pengawasan orang tua, yang kebanyakan bekerja mengangkut batu bata atau menggali jalan baru atau menjadi kuli untuk membangun rumah mewah.

    Ketua Perlindungan Anak, Prabhat Jha, mengatakan perlu ada fasilitas pusat perawatan baik dari pemerintah atau perusahaan konstruksi. "Perlu ada tempat yang aman untuk anak-anak itu untuk mengelakkan mereka terluka," katanya Jha, seperti yang dilansir Straits Times, 18 Mei 2016.

    Orang tua di India biasanya akan membawa anak-anak tinggal bersama mereka sampai mereka berusia 7 atau 8 tahun di kota. Setelah itu, anak-anak tersebut akan dikirim untuk tinggal bersama kakek-nenek mereka di desanya.

    STRAITS TIMES | METRO.UK | YON DEMA

    Baca juga:
    Heboh Kontribusi Reklamasi: Tiga Skenario Nasib Ahok
    Geger Daging Manusia Dijadikan Kornet, Ini Penampakannya

    BACA JUGA

    Lagu Dangdutnya Termasuk Dilarang, Reaksi Jupe Mengejutkan!
    Heboh Konstribusi Reklamasi:  Inilah 3 Skenario Nasib Ahok


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.