Pencuri Permata dari Istana Saudi Putuskan Jadi Biksu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah Biksu Buddha beribadah saat melakukan prosesi sedekah dalam upacara Makha Bucha di kuil Wat Phra Dhammakaya di Pathum Thani, Bangkok, Thailand, 4 Maret 2015. REUTERS

    Sejumlah Biksu Buddha beribadah saat melakukan prosesi sedekah dalam upacara Makha Bucha di kuil Wat Phra Dhammakaya di Pathum Thani, Bangkok, Thailand, 4 Maret 2015. REUTERS

    TEMPO.COBangkok - Kriangkrai Techamong, pria berkewarganegaraan Thailand yang mencuri permata Blue Diamond dari istana Arab Saudi, memutuskan menjadi rahib Buddha atau biksu sebagai upaya menebus kesalahannya.

    Sebagaimana dilansir dari laman Asian Correspondent, Techamong bekerja sebagai tukang kebun di istana Pangeran Faisal bin Fahd pada 1989. Di suatu malam, dia menyelinap saat penghuni istana tidur, mendobrak pintu, dan mencuri 200 pon perhiasan senilai sekitar US$ 20 juta atau Rp 261 miliar. Tidak lupa dia mengambil Blue Diamond 50 karat yang langka dan sangat mahal.

    Techamong mengatakan pada Kamis, 17 Maret 2016, kepada media lokal bahwa pencurian itu membawa penderitaan besar, kemalangan untuk dia dan keluarganya. Dia menyebut Blue Diamond itu telah dikutuk.

    "Saya yakin semua kemalangan saya adalah hasil dari kutukan Blue Diamond Saudi yang saya curi. Jadi saya memutuskan menjadi rahib di sisa hidup saya untuk menebus karma buruk," kata Techamong.

    Menurut stasiun televisi Thailand Channel 7, Techamong menerima nama biksu yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi "Dia yang Memiliki Berlian Pengetahuan".

    Techamong mendekam lima tahun di penjara Thailand karena pencurian itu. Polisi membebaskannya dan mengembalikan beberapa permata ke Saudi. Pejabat Saudi menegaskan berlian yang dikembalikan kebanyakan palsu. Sementara itu, Blue Diamond, yang paling berharga dari permata yang dicuri, masih belum ditemukan.

    ASIAN CORRESPONDENT | MECHOS DE LAROCHA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.