3 Pilot Wanita Asal Brunei Cetak Sejarah di Arab Saudi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapten Sharifah Czarena, serta co-pilot Dk Nadiah dan Sariana di dalam pesawat Royal Brunei Air, yang mereka terbangkan dari Brunei ke Jeddah, 27 Februari 2016. (Royahbrunei/Instagram)

    Kapten Sharifah Czarena, serta co-pilot Dk Nadiah dan Sariana di dalam pesawat Royal Brunei Air, yang mereka terbangkan dari Brunei ke Jeddah, 27 Februari 2016. (Royahbrunei/Instagram)

    TEMPO.CO, Jeddah - Ada yang tidak biasa dengan pendaratan maskapai penerbangan Brunei Darusalam di Arab Saudi baru-baru ini. Saat itu, pesawat milik Royal Brunei Airlines, Boeing 787 Dreamliner, yang terbang dari Brunei ke Jeddah, diawaki tiga pilot wanita.

    Ketiga pilot wanita berjilbab tersebut membuat sejarah dengan menjadi awak kabin kokpit pertama--semuanya kaum hawa--yang mendarat di Arab Saudi, negara tempat wanita diharamkan untuk mengendarai mobil.

    Seperti yang dilansir BBC pada 15 Maret 2016, pendaratan Kapten Sharifah Czarena dan kopilot Sariana Nordin serta Dk Nadiah Pg Khashiem pada 27 Februari lalu bertepatan dengan Hari Nasional Brunei, yang merayakan peringatan hari kemerdekaan.

    Kapten Czarena dilatih di Inggris. Desember 2013, dia menjadi pilot Royal Brunei pertama yang terbang dari Bandar Udara Heathrow, London, dengan Boeing 787 Dreamliner. "Menjadi pilot, orang biasanya melihatnya sebagai pekerjaan yang dominan milik pria."

    "Sebagai seorang wanita Brunei, itu adalah suatu prestasi besar. Ini benar-benar menunjukkan generasi muda atau anak-anak bahwa apa pun yang mereka impikan, mereka bisa mencapainya," kata Czarena kepada Brunei Times.

    Arab Saudi ialah satu-satunya negara di dunia yang melarang wanita untuk mengemudi. Meski tidak ada undang-undang yang mengatur hal tersebut, para ulama menyerukan wanita yang mengendarai mobil melanggar nilai-nilai sosial.

    Surat izin mengemudi hanya dikeluarkan untuk kaum Adam. Wanita yang kedapatan mengemudi didenda dan ditilang polisi. Wanita Saudi meluncurkan serangkaian kampanye, termasuk di media sosial, menuntut pengurangan pembatasan.

    Meski demikian, pemerintah Arab Saudi secara perlahan mulai memberikan kewenangan kepada wanita, terutama dalam berpolitik. Tahun lalu, wanita di Saudi diizinkan memberikan suara mereka untuk pertama kalinya dalam pemilihan kota.

    Sebanyak 978 wanita juga terdaftar sebagai calon anggota parlemen. Mereka bersama 5.938 laki-laki harus berbicara di belakang partisi saat berkampanye atau diwakili seorang pria. Keputusan mengizinkan wanita mengambil bagian dalam politik dibuat oleh mendiang Raja Abdullah dan dipandang sebagai bagian penting dari warisan budaya.



    BBC | METRO.CO.UK | YON DEMA

    BERITA MENARIK
    Sebut Hari Kemerdekaan 32 Agustus, Zaskia Gotik Hina Negara?
    Ketika Susi, Menteri Lulusan SMP, Kuliahi Mahasiswa Harvard


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?