Perang Laut, Sentimen Anti-Cina Membara di Vietnam  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto satelit yang dirilis Asian Maritime Transparency Initiative, pada 23 Februari 2016, memperlihatkan Tiongkok kemungkinan sedang membangun instalasi radar di pulau-pulau di kepulauan Spartly di Laut Cina Selatan. Kepulauan Spratly menjadi sengketa antara Tiongkok, Filipina, Taiwan, Vietnam, Malaysia, dan Brunai.  REUTERS/CSIS Asia Maritime Transparency Initiative/DigitalGlobe

    Foto satelit yang dirilis Asian Maritime Transparency Initiative, pada 23 Februari 2016, memperlihatkan Tiongkok kemungkinan sedang membangun instalasi radar di pulau-pulau di kepulauan Spartly di Laut Cina Selatan. Kepulauan Spratly menjadi sengketa antara Tiongkok, Filipina, Taiwan, Vietnam, Malaysia, dan Brunai. REUTERS/CSIS Asia Maritime Transparency Initiative/DigitalGlobe

    TEMPO.CO, Hanoi - Aksi jalanan untuk memperingati perang laut ke-28 dengan Cina berlangsung di ibu kota Vietnam, Hanoi, Senin, 14 Maret 2016. Dalam aksi itu, demonstran meneriakkan yel-yel anti-Cina dan menolak kehadiran angkatan laut Cina di perairan Laut Cina Selatan.

    Menurut laporan Al Jazeera, sekitar 150 orang mengenakan ikat kepala sambil membawa spanduk membentuk lingkaran di jalan-jalan sekitar Hoan Kiem, Hanoi, dengan berteriak "Ganyang Cina!"

    "Mereka juga meletakkan karangan bunga untuk 64 angkatan laut Vietnam, yang meninggal pada 1988 dalam bentrok dengan pasukan laut Cina di Kepulauan Spratly," tulis Al Jazeera.

    Peserta unjuk rasa ini jumlahnya kecil, tapi dianggap signifikan dalam sejarah Vietnam. Sebab, negeri ini mengharamkan demonstrasi. Sementara itu, sentimen anti-Cina yang tumbuh kuat di kalangan masyarakat merupakan isu sensitif bagi partai berkuasa, Partai Komunis.

    Polisi tampak tidak berusaha membubarkan demonstrasi selama 90 menit itu. Jumlah ini lebih besar dibandingkan dengan tahun lalu, termasuk ketika unjuk rasa menentang kunjungan Presiden Cina Xi Ping di Hanoi pada November 2015.



    AL JAZEERA | CHOIRUL AMINUDDIN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.