Israel dan Iran Bersaing Tambah Anggaran Militer

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemuda Palestina melemparka batu kearah kendaraan militer Israel saat berada di West Bank, 6 Oktober 2015. Kekerasan mematikan itu berlangsung menyusul keputusan Israel melarang warga Palestina mengunjungi Kota Tua Yerusalem kecuali penduduk setempat. AP/Majdi Mohammed

    Pemuda Palestina melemparka batu kearah kendaraan militer Israel saat berada di West Bank, 6 Oktober 2015. Kekerasan mematikan itu berlangsung menyusul keputusan Israel melarang warga Palestina mengunjungi Kota Tua Yerusalem kecuali penduduk setempat. AP/Majdi Mohammed

    TEMPO.CO, Yerusalem - Israel dan Iran memiliki anggaran pertahanan tertinggi di Timur Tengah, sementara negara-negara di Teluk Arab, menurut sejumlah pemberitaan pada Kamis, 17 Desember 2015, memotong belanja pertahanannya menyusul harga minyak dunia anjlok.  

    Menurut lembaga intelijen IHS di London, anggaran pertahanan di hampir seluruh dunia meningkat karena dipicu kian meningkatnya ancaman keamanan. Bahkan sejumlah negara Barat tidak memotong anggaran pertahanan mereka.

    Anggaran pertahanan Iran menempati posisi kedua di dunia yakni meningkat 29 persen pada 2015. Adapun Israel tumbuh sekitar 10 persen atau di posisi ketujuh, sedangkan Irak bertengger di posisi kesembilan dengan anggaran di bawah sembilan persen.

    Ukraina berada berada di posisi paling atas yaitu 90 persen, sedangkan seterunya Rusia di posisi keempat atau menambah anggaran pertahanan sebesar 21 persen, Cina di posisi kedelapan yakni sembilan persen.

    IHS Jane’s Defense Budgets Annual Report telah meneliti anggaran belanja pertahanan dari 104 negara.  "Dari 10 negara yang memiliki anggaran tercepat pada 2015 hanya tiga negara berda di Timur Tengah dari sebelumnya enam negara," kata Fenella McGerry, peneliti IHS.

    IHS dalam laporannya menyebutkan, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab memotong anggaran belanja kebutuhan militer, sementara Oman menurunkan sedikit anggaran militernya.

    Meskipun anggaran mereka turun tahun ini, jelas IHS, namun secara substansi belanja alat perang negara-negara tersebut lebih tinggi daripada empat tahun lalu karena untuk menghadapi pemberontakan di dunia Arab yang dipimpin oleh penguasa konservatif. "Negara-negara Teluk juga membangun pertahanan misil untuk melawan pesaingnya, Iran," kata IHS.

    Pemotongan anggaran pertahanan tahun ini terkait dengan turunnya harga minyak dunia sehingga memperngaruhi pendapatan negara eksportir minyak. Harga minyak sekarang  diperdagangkan sekitar US$ 37 per barrel atau setara dengan Rp 500 ribu dari sebelumnya mencapai puncaknya US$ 115 atau sekitar Rp 1,6 juta per barrel.

    Arab Saudi menghabiskan belanja pertahanan US$ 46,3 miliar (Rp 645 triliun) pada 2015. Anggaran ini paling tinggi di Timur Tengah dan Afrika Utara. "Arab Saudi menempati posisi kedelapan," tulis laporan IHS.

    Sebaliknya dengan Israel, negeri Yahudi ini membelanjakan uangnya untuk pertayhanan sebesar US$ 15,6 miliar atau sekitar Rp 217 triliun. Israel menempati posisi ke-16 atau berada satu titik di bawah Turki, tetapi mengungguli Uni Emirat Arab, Taiwan, Spanyol, dan Aljazair. "Anggaran Israel meningkat bila dibandingkan dengn anggaran 2014. Ketika itu Isrel berada di posisi 18 dengan anggaran sekiar US$ 14,2 miliar atau Rp 198 triliun."

    YERUSALEM POST | CHOIRUL AMINUDDIN

     
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.