Rekaman Detik-Detik Terakhir Penembakan Gereja Charleston  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kepolisian menggiring pelaku penembakan di gereja Charleston, Dylann Storm Roof (tengah), di Shelby, 18 Juni 2015. Dalam penembakan di gereja Emanuel EMA menewaskan setidaknya sembilan orang dalam kejadian tersebut. AP/Chuck Burton

    Petugas kepolisian menggiring pelaku penembakan di gereja Charleston, Dylann Storm Roof (tengah), di Shelby, 18 Juni 2015. Dalam penembakan di gereja Emanuel EMA menewaskan setidaknya sembilan orang dalam kejadian tersebut. AP/Chuck Burton

    TEMPO.COCharleston - Sebuah video mengungkapkan detik-detik sebelum terjadinya penembakan jemaat sebuah gereja di Kota Charleston, Carolina Selatan, Amerika Serikat, pada Rabu malam, 17 Juni 2015. Video tersebut direkam salah satu korban, Tywanza Sanders. 

    Sanders, 26 tahun, merekam momen saat ia dan kawan-kawannya tengah belajar kitab suci di sebuah gereja bersejarah di kota itu. Terlihat sekelompok orang berkulit hitam duduk mengelilingi sebuah meja. 

    Semua peserta kelas merupakan warga kulit hitam, kecuali seorang lelaki yang duduk di belakang. Lelaki itu diduga Dylann Storm Roof, pelaku penembakan. 

    Sebelum kejadian, Sanders mengirimkan gambar itu ke temannya, dengan judul "Para Pembelajar Kitab Suci".

    Salah satu teman Sanders, Elroy Brown, menyahut pada video Snapchat. "Itu menunjukkan mereka sedang berada dalam satu pertemuan. Kamu bahkan bisa melihat teroris itu berada di pojok dalam waktu singkat," ujar Brown. 

    Kawan Sanders yang lain mengaku tak sadar atas keberadaan Dylann. "Kamu bisa sedikit melihat dia ada di pojok ruangan dalam gambar," ucapnya.

    Dylann disebut-sebut sebagai tamu yang diundang peserta kelas. Tak lama berselang, ia menembakkan peluru hingga menewaskan sembilan orang. Para korban di antaranya Sanders, Sharonda Singleton, DePayne Middleton, Cynthia Hurd, Myra Thompson, Ethel Lee Lance, Daniesl Simmons, dan Susie Jackson. 

    Polisi menangkap Dylann setelah diburu selama 14 jam. Ia lalu ditahan dan diekstradisi ke Carolina Selatan. Sepekan sebelum kejadian, Dylann mengaku ingin membunuh orang. Namun kawan-kawan Dylann hanya menganggap itu lelucon.

    "Dia aneh. Kamu tak tahu kapan berlaku serius atau bercanda dengannya," tutur seorang kawan lama Dylann, Christon Scriven.

    Dylann menyerang korbannya dengan alasan rasial. "Kalian memperkosa perempuan-perempuan kami, dan kalian mengambil alih negara kami. Kalian layak pergi," ucap Dylann. 

    MIRROR | PUTRI A.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.