Jepang Minta Tolong Yordania Bebaskan Sandera ISIS

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Tokyo - Jepang meminta bantuan pemerintah Yordania setelah kelompok bersenjata Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) merilis video baru berisi ancaman pembunuhan terhadap sandera Jepang, Kenji Goto, dan pilot Yordania, Muath al-Kaseasbeh, dalam waktu 24 jam.

    Pejabat Jepang dan Yordania dilaporkan sedang mengadakan pembicaraan mengenai tuntutan ISIS untuk pembebasan Sajida al-Rishawi, seorang perempuan Irak yang dituduh menjadi bagian serangan bom di Amman pada 2005. Serangan ini menyebabkan 60 orang tewas. Menurut laporan, al-Rishawi dapat ditukar dengan Goto dan al-Kaseasbeh.

    Sebelumnya, Rabu, 28 Januari 2015, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe murka atas tuntutan yang disampaikan oleh ISIS. Dia menyebut ancaman ISIS akan membunuh Goto bila tuntutannya tak dipenuhi sebagai perbuatan sangat tercela. "Pemerintah, dalam situasi yang sangat memprihatinkan ini, meminta kerja sama dengan pemerintah Yordania demi pembebasan Goto. Kebijaksanaan ini tidak berubah," ucap Abe.

    Setelah menyampaikan tuntutan uang tebusan senilai US$ 200 juta atau sekitar Rp 2,5 miliar, ISIS mengatakan, kelompoknya minta Yordania membebaskan Sajida al-Rishawi, yang dijatuhi hukuman mati pada 2006 karena terlibat pengeboman.

    Goto, seorang jurnalis Jepang, diculik oleh sejumlah pria bersenjata pada Oktober 2014 setelah berpetualang memasuki wilayah Suriah untuk sebuah misi pembebasan sahabatnya, Haruna Yukawa. Pria ini menemui ajal pekan lalu setelah Jepang, Jumat, 23 Januari 2015, menolak memberikan uang tebusan US$ 270 juta (Rp 337 miliar) kepada mereka.

    AL JAZEERA | CHOIRUL

    Terpopuler
    Selalu Bilang Next, Ceu Popong Tegur Menteri Anies 
    EKSKLUSIF: Wawancara Ratna, Saksi Bambang KPK (I)
    KPK Rontok, Giliran Yusuf PPATK 'Diteror' DPR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.