Dua Anggota Dewan Korsel Hadiri Pelantikan Jokowi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden terpilih Jokowi usai menjawab pertanyaan wartawan di rumah dinas Gubernur DKI Jakarta di Jakarta, Rabu, 1 Oktober 2014. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    Presiden terpilih Jokowi usai menjawab pertanyaan wartawan di rumah dinas Gubernur DKI Jakarta di Jakarta, Rabu, 1 Oktober 2014. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Beberapa tamu penting dari berbagai negara dipastikan akan menghadiri pelantikan presiden terpilih Joko Widodo pada 20 Oktober 2014 mendatang, termasuk dari Republik Korea atau Korea Selatan.

    Dalam pernyataan resminya, dua delegasi dari Korea Selatan akan menghadiri pelantikan tersebut. Mereka adalah Kim Tae-whan dan Ham Jin-kyu. Keduanya merupakan anggota dewan Korea Selatan.

    Selain pejabat Korea Selatan, pelantikan presiden terpilih Jokowi juga akan dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry. Bersama lima pejabat lainnya, Kerry akan bertolak ke Jakarta menjadi delegasi dari AS. (Baca: Obama Utus Menlu Kerry Hadiri Pelantikan Jokowi)

    Adapun Perdana Menteri Tony Abbot dilaporkan datang, tapi ia datang atas inisiatif sendiri dan belum mendapat undangan. (Baca: PM Abbot Belum Dapat Undangan Pelantikan Jokowi)

    Sejumlah pemimpin dunia lainnya, seperti Sultan Brunei Hassanal Bolkiah, Gubernur Papua Nugini Jenderal Michael Ogijo, Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak, Wakil Perdana Menteri Thailand Tanasak Patimapragorn, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, dan Perdana Menteri Haiti Laurent Lamothe diperkirakan juga akan menghadiri pelantikan tersebut.

    ANINGTIAS JATMIKA

    Terpopuler:
    Rehana, Pembasmi ISIS, Dikabarkan Tewas 
    Ratusan Pejuang ISIS di Kobane Tewas Dibom AS 
    29 Tahun Dibui, Pria AS Ini Ternyata Tak Bersalah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wiranto Ditusuk Seseorang yang Diduga Terpapar Radikalisme ISIS

    Menkopolhukam, Wiranto ditusuk oleh orang tak dikenal yang diduga terpapar paham radikalisme ISIS. Bagaimana latar belakang pelakunya?