WHO: Korban Tewas Virus Ebola Tembus 1.000 Orang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Staf dari lembaga bantuan medis  'Doctors without Borders' membawa mayat seorang pasien yang meninggal karena virus yang menyebabkan pendarahan, di pusat perawatan virus Ebola di Guekedou, Guinea, Afrika (1/4). Wabah virus yang menjangkiti Guinea memiliki kemiripan gejala dengan Ebola. (SEYLLOU/AFP/Getty Images)

    Staf dari lembaga bantuan medis 'Doctors without Borders' membawa mayat seorang pasien yang meninggal karena virus yang menyebabkan pendarahan, di pusat perawatan virus Ebola di Guekedou, Guinea, Afrika (1/4). Wabah virus yang menjangkiti Guinea memiliki kemiripan gejala dengan Ebola. (SEYLLOU/AFP/Getty Images)

    TEMPO.CO, Dakar - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, jumlah korban tewas akibat wabah ebola telah mencapai 1.013 orang. Jumlah ini sudah termasuk 52 korban yang tewas dalam tiga hari sejak 9 Agustus lalu. (Baca: Kenali Beberapa Cara Mencegah Penularan Virus Ebola)

    Seperti dilansir laman AsiaOne, Selasa, 12 Agustus 2014, jumlah korban terbanyak berada di Liberia, yaitu 29 orang. Negara lainnya adalah Sierra Leone dengan jumlah korban tewas 17 orang dan enam orang tewas di Guinea. Dengan demikian, WHO mencatat, jumlah korban yang terjangkit virus ini meningkat menjadi 1.848 orang. (Baca: AS Kirim Obat Penangkal Ebola ke Afrika Barat)

    Kasus terbaru yang dilaporkan adalah kematian seorang warga Eropa pertama yang terjangkit ebola, Pendeta Miguel Pajares. Pajares, 75 tahun, meninggal di rumah sakit. Hal ini telah dikonfirmasikan oleh juru bicara otoritas kesehatan Madrid, hari ini.

    Pajares diterbangkan dari Liberia pada 7 Agustus lalu setelah tertular virus mematikan yang telah menewaskan lebih dari 1.000 orang di Afrika Barat ini. Saat tertular, ia merupakan anggota organisasi non-pemerintah di Afrika. Kini ia telah dipulangkan bersama rekan kerjanya, Juliana Bohi, seorang biarawati yang hasil uji laboratoriumnya menyatakan dia tidak terjangkit virus ebola.

    Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat telah menyetujui permintaan pemerintah Liberia mengirim dosis sampel obat percobaan, ZMapp, untuk mengobati pasien yang terinfeksi ebola. Dalam pernyataan di situs Liberia, Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf mengatakan obat tersebut akan dikirimkan ke negara-negara Afrika Barat pekan ini oleh perwakilan pemerintah Amerika.

    Seorang perwakilan Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat (HHS) mengatakan pihak berwenang AS telah membantu menghubungkan pemerintah Liberia dengan produsen obat tersebut. "Sejak obat dikirim untuk digunakan di luar Amerika Serikat, prosedur ekspor yang tepat harus diikuti," kata perwakilan HHS.

    Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat berulang kali menekankan bahwa efek obat tersebut belum diketahui karena belum melalui proses uji klinis yang ketat. Saat ini tidak ada obat atau vaksin untuk ebola di pasar dunia.

    WHO telah menyatakan status wabah ebola di Afrika Barat sebagai darurat kesehatan yang menyebar cepat di Sierra Leone, Liberia, Guinea, dan Nigeria. (Baca: Negara Terjangkit Ebola Berstatus Darurat Nasional)

    ASIAONE | REUTERS | ROSALINA

    Terpopuler Dunia

    Suami-Istri Jatuh ke Jurang Saat Berfoto Selfie 
    Rute Pendukung ISIS dari Indonesia Menuju Suriah
    Kekasih Clooney Tolak Gabung dalam Panel Gaza PBB 
    AS Kirim Obat Penangkal Ebola ke Afrika Barat  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.