Pengakuan Dokter AS yang Terjangkit Ebola

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dr. Kent Brantly (kanan) saat berada di rumah sakit ELWA, Monrovia, Liberia.  Brantly dan seorang pekerja medis Nancy Writebol terinfeksi virus Ebola yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya. REUTERS/Samaritan's Purse

    Dr. Kent Brantly (kanan) saat berada di rumah sakit ELWA, Monrovia, Liberia. Brantly dan seorang pekerja medis Nancy Writebol terinfeksi virus Ebola yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya. REUTERS/Samaritan's Purse

    TEMPO.CO, Atlanta - Dokter Kent Brantly, salah satu dari dua pasien Ebola asal Amerika Serikat yang diterbangkan dari Liberia ke Emory University Hospital di Atlanta, mengatakan kondisinya semakin membaik. Dalam suratnya yang ditulis dari ruang perawatan isolasinya, ia menyatakan "semakin kuat setiap hari."

    Dalam suratnya itu, Brantly menceritakan sekilas tentang bagaimana kondisi pasien Ebola di Rumah Sakit Elwa di Monrovia, Liberia. "Aku memegang tangan orang yang tak terhitung jumlahnya saat penyakit yang mengerikan ini mengambil kehidupan mereka," katanya. "Aku menyaksikan kengerian itu secara langsung, dan aku masih ingat setiap wajah dan nama mereka."

    Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, wabah Ebola yang sedang berjangkit di Afrika Barat telah menewaskan 961 orang dari 1.779 yang terinfeksi. Ini merupakan wabah Ebola terburuk yang pernah terjadi.

    Brantly, 33 tahun, ayah dua anak, segera mengisolasi dirinya begitu merasakan gejala Ebola datang pada awal bulan ini. Tiga hari kemudian, hasil tes memastikan bahwa ia terjangkit penyakit mematikan itu.

    "Begitu hasilnya positif, aku ingat rasanya, ada rasa damai di luar pemahaman," katanya. "Tuhan mengingatkan saya apa yang telah Dia ajarkan pada saya beberapa tahun sebelumnya."

    Brantly dan misionaris Nancy Writebol mendapat pengobatan Ebola eksperimental yang dibuat oleh Mapp Biopharmaceuticals, yang telah terbukti dalam skala laboratorium dengan percobaan pada monyet. Para dokter yang menanganinya berharap banyak pada obat itu.

    "Fakta yang jelas adalah kita tidak tahu apakah pengobatan yang bermanfaat, berbahaya, atau tidak memiliki dampak apa pun," kata Tom Frieden, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, saat bersaksi di depan Kongres awal pekan ini. "Kami tidak mungkin mengetahui dari pengalaman dua atau beberapa pasien apakah obat ini bekerja dengan baik."

    ABC NEWS | INDAH P.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.