Perdana Menteri Ukraina Mengundurkan Diri  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa Pro- Uni Eropa mengibarkan bendera nasional saat berkumpul dalam aksi di Independence Square di Kiev, Ukraina (17/12). Selama berminggu-minggu massa ini telah melakukan aksi protes menuntut Presiden Ukraina Yanukoyvch untuk kembali memperbaiki hubungan dagang dengan Uni Eropa. (AP Photo/Alexander Zemlianichenko)

    Massa Pro- Uni Eropa mengibarkan bendera nasional saat berkumpul dalam aksi di Independence Square di Kiev, Ukraina (17/12). Selama berminggu-minggu massa ini telah melakukan aksi protes menuntut Presiden Ukraina Yanukoyvch untuk kembali memperbaiki hubungan dagang dengan Uni Eropa. (AP Photo/Alexander Zemlianichenko)

    TEMPO.CO, Kiev - Perdana Menteri Ukraina Arseny Yatsenyuk mengajukan pengunduran diri pada Kamis, 24 Juli 2014. Yatsenyuk mengundurkan diri lantaran menilai parlemennya telah gagal dalam memberlakukan undang-undang dan kendali atas situasi energi yang semakin genting dan meningtaknya pembiayaaan militer.

    “Dengan terjadinya perpecahan dalam koalisi parlemen dan tidak tercapainya sejumlah RUU penting, saya menyatakan mengundurkan diri,” kata Yatsenyuk, seperti dilaporkan Reuters.

    Pengunduran ini disetujui oleh Presiden Ukraina Petro Poroshenko. Sebab, mundurnya Yatsenyuk akan memunculkan pembaruan di badan parlemen. "Masyarakat ingin pembaruan penuh pada otoritas negara," kata Petro.

    Pengunduran Yatsenyuk ini dilakukan setelah partai nasionalis Svoboda dan Udar yang dipimpin Vitali Klitschko, mantan petinju dunia, menarik diri dari anggota parlemen yang mengambil alih dan menggulingkan Perdana Menteri Ukraina sebelumnya, Viktor Yanukovych, akhir tahun lalu.

    Pengunduran Yatsenyuk ini bisa meninggalkan "lubang" yang dalam di jantung pemerintah Ukraina. Sebab, negara itu tengah berjuang mendanai perang dengan pemberontak pro-Rusia di timur Ukraina dan sebuah "perjanjian" setelah kecelakaan MH17 pekan lalu. (Baca: Buka Akses ke MH17, Pemberontak Ajukan Syarat)

    "Dengan memblokir undang-undang, seperti RUU yang memungkinkan konsorsium dengan perusahaan-perusahaan Eropa dan Amerika Serikat untuk mengoperasikan distribusi gas dan fasilitas penyimpanan di Ukraina, parlemen menempatkan masa depan yang berisiko. Dengan tidak mendanai pengeluaran anggaran militer, nyawa tentara Ukraian dalam bahaya," tutur Yatsenyuk dalam pidatonya.

    Yatsenyuk marah dan tidak bisa terima karena undang-undang belum juga disahkan. Padahal Ukraina butuh bahan bakar untuk kendaraan lapis baja sebagai alat pertahanan negara. "Tidak mungkin kita membebaskan diri dari ketergantungan pada gas Rusia," ujar Yatsenyuk.

    Pengunduran Yatsenyuk telah menjadi pembicaraan Uni Eropa dan Amerika Serikat. Meski telah resmi mengundurkan diri, Yatsenyuk tidak boleh meninggalkan kantor sebelum ada perdana menteri dan pemerintahan yang baru.

    RINDU P. HESTYA | REUTERS

    Berita Lain:
    Presiden Prancis Akan Nikahi Selingkuhannya 
    Dua Jet Ukraina Ditembak Tak Jauh dari Lokasi MH17
    Syarat Gencatan Senjata dari Hamas  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.