Obama Tak Setuju Turki Blokir Twitter  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Barack Obama berbicara tentang Ukraina, di James Brady Press Briefing Room di Gedung Putih, Washington (17/3). Presiden memberlakukan sanksi terhadap para pejabat Rusia, termasuk penasihat Presiden Vladimir Putin, atas dukungan mereka terhadap suara Crimea untuk memisahkan diri dari Ukraina. (AP/Susan Walsh)

    Presiden Barack Obama berbicara tentang Ukraina, di James Brady Press Briefing Room di Gedung Putih, Washington (17/3). Presiden memberlakukan sanksi terhadap para pejabat Rusia, termasuk penasihat Presiden Vladimir Putin, atas dukungan mereka terhadap suara Crimea untuk memisahkan diri dari Ukraina. (AP/Susan Walsh)

    TEMPO.CO, Ankara - Twitter terancam musnah dari Turki setelah Perdana Menteri Recep Tayyep Erdogan merasa jejaring sosial itu menyebar isu korupsi yang ia lakukan. Namun, jelas keputusan ini menerima banyak protes dan kritik dari berbagai pihak termasuk dari Amerika. Juru bicara Gedung Putih Jay Carney, menyampaikan bahwa Presiden Barack Obama pun menyayangkan hal ini. Ia menjelaskan,Twitter sudah dianggap sebagai bagian dari alat komunikasi dasar.

    "Amerika Serikat sangat prihatin bahwa pemerintah Tukri telah memblokir akses warga negaranya ke alat komunikasi dasar. Kami menentang pembatasan ini," kata Jay Carney dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir situs Tech Radar, Sabtu, 22 Maret 2014.

    Menurut Obama, kata Carney, aksi ini akan mengurangi penyerapan informasi dan kebebasan masyarakat dalam berekspresi. "Kami mendesak pemerintah Turki untuk menghormati kebebasan pers dengan tidak melarang operasi independen media dari semua jenis dan mendukung masyarakat Turki untuk mengembalikan akses mereka secara penuh," kata Carney.

    Erdogan, pemimpin Turki sejak 2003, memang sedang berada di bawah tekanan. Beberapa minggu terakhir, sebuah rekaman yang membahas tempat persembunyian uang miliknya heboh di jejaring sosial. Dalam rekaman itu, ia dan putranya, Bilal, sedang membahas kemana uang tersebut akan disembunyikan.

    Tak hanya Twitter, Erdogan juga mengancam akan menghapus YouTube dan Facebook di negaranya. Bagi dia, jejaring sosial itu sangat mudah dimanfaatkan oleh musuh-musuh politiknya. 

    RINDU P HESTYA | TECH CRUNCH

    Berita Lain:
    Mengapa Habibie Yakin Malaysia Airlines Meledak? 
    Terungkap: Percakapan 54 Menit Terakhir MH370 
    Natalia Poklonskaya, Sosok Cantik di Balik Crimea
    Turki Akhirnya Blokir Twitter 
    Israel Akan Bangun 2.269 Rumah di Tepi Barat  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.