Serangan ke Suriah Ganggu Agenda G20  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pertemuan G20 Rusia. REUTERS/Alexander Demianchuk

    Ilustrasi pertemuan G20 Rusia. REUTERS/Alexander Demianchuk

    TEMPO.CO, St Petersburg - Para pemimpin dunia dari G20 yang akan bertemu di St Petersburg, Rusia, berbeda pendapat mengenai rencana Amerika Serikat menggempur Suriah sebagai respon AS terhadap serangan senjata kimia Assad pada pemberontak Suriah, Rabu, 21 Agustus 2013 lalu.

    Pertemuan G20 dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 5 September 2013, hanya beberapa jam seusai Senat AS bersepakat memberikan dukungan kepada Presiden Barack Obama menggunakan kekuatan militer terhadap Suriah. Keputusan ini pertama kali diambil oleh Senat tentang tindakan militer sejak Oktober 2002 saat memberikan suara mendukung invasi AS ke Irak.

    Washington dan penyokong utama Suriah, Rusia, secara terbuka berada pada posisi berlawanan mengenai aksi militer Obama yang kini tengah sibuk menggalang kekuatan internasional. Obama mengatakan dalam sebuah pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di St Petersburg, bahwa dia mencoba membujuk Putin tentang perlunya gempuran terhadap Presiden Bashar al-Assad yang dituding menyebabkan lebih dari 1.400 orang tewas dengan senjata kimia.

    "Kredibilitas AS dan dunia dipertaruhkan," kata Obama saat berada di Stockholm dalam perjalanan menuju Rusia.

    AL JAZEERA | CHOIRUL

    Topik Terhangat

    Delay Lion Air | Jalan Soeharto | Siapa Sengman | Polwan Jelita | Tes Penerimaan CPNS


    Berita Terpopuler
    Istri Jaksa Pamer Pistol Juga Kerap Berulah
    Jaksa MP 'Pamer' Pistol Pernah Tangani Buruh Panci
    Jaksa Pamer Pistol Diperiksa Pengawas Kejagung
    Jatah BLSM Diambil Orang, Kakek Ini Meninggal
    2 Polisi Bernama Agus, Selamatkan Nyawa Warga


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.