Dan Lalat pun 'Mendarat' di Jidat Obama  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seekor lalat mendarat di antara mata Presiden Amerika Serikat Barack Obama saat ia berbicara di State Dining Gedung Putih di Washington, Kamis (24/1). REUTERS/Larry Downing

    Seekor lalat mendarat di antara mata Presiden Amerika Serikat Barack Obama saat ia berbicara di State Dining Gedung Putih di Washington, Kamis (24/1). REUTERS/Larry Downing

    TEMPO.CO, Washington - Tak hanya di sini acara orang nomor satu diganggu seekor lalat. Di Amerika Serikat, serangga yang selalu dikonotasikan dengan tempat yang kotor ini mencuri perhatian saat Presiden Barack Obama mengumumkan dua menteri baru. Binatang ini terbang berdengung, sebelum akhirnya mendarat tepat di antara dua alis orang nomor satu Amerika Serikat ini.

    Obama yang terganggu, mengundang senyum dengan komentarnya. "This guy...sangat mengganggu di sini," ujarnya, sambil melambaikan tangan mengusir lalat itu.

    Laporan media menyebutkan, Obama baru berbicara selama sekitar lima menit ketika tiba-tiba "diteror" oleh seekor lalat.

    Ini bukan pertama kalinya Obama diganggu oleh kehadiran lalat. Pada bulan Juni 2009, ia menghentikan wawancaranya karena lalat masuk ke ruangannya dan mengganggu jalannya wawancara, yang akan disiarkan di sebuah stasiun televisi. Yang kedua, saat ia mengumumkan reformasi kesehatan tahun 2010. Obama memotong ceritanya yang disampaikan dengan emosional tentang seorang perjuang Amerika tanpa asuransi kesehatan saat lalat berdengung di sekelilingnya.

    Kali ini, media memberitakan lalat yang mendarat di dahinya dengan jenaka. Secret Service, misalnya, diledek karena kegagalan mereka "menjaga" Obama dari lalat. Harian Telegraph Inggris membukanya dengan kalimat, "Bahkan Secret Service pun tak mampu mengusir lalat dari alis presidennya."

    AP | TELEGRAPH | TRIP B


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.