Bayi Jelek, Istri Digugat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sxc.hu

    Sxc.hu

    TEMPO.COBeijing – Kisah pernikahan yang berakhir tragis. Feng, warga Cina Utara, menikahi wanita cantik. Lalu, seorang bayi perempuan pun lahir. Sayangnya, sang bayi tidak secantik ibunya.

    Usut punya usut, si ibu ternyata menjalani operasi plastik senilai US$ 100 ribu di Korea Selatan, sebelum mereka bertemu. Feng pun berang. Dia menuduh sang istri telah menipunya dan mengajukan gugatan pengadilan.

    Pengadilan memenangkan Feng. Kisah ini menggegerkan dunia maya. Beredarlah foto-foto di berbagai blog yang menampilkan gambar si wanita sebelum dan sesudah dioperasi. Namun foto-foto itu tidak dapat diverifikasi.

    Feng mengklaim istrinya tidak jujur dengan tidak memberitahu soal operasi plastik sebelum mereka menikah. “Saya menikahinya dengan cinta, namun tak lama setelah putri pertama kami lahir, kami mulai bermasalah,” katanya. “Putri kami sangat jelek, saking jeleknya membuat saya takut.”

    Sayangnya, hakim membela Feng dan memerintahkan sang istri membayar uang kompensasi US$ 120 ribu. Meski demikian banyak kalangan menyesalkan keputusan pengadilan tersebut. Pengamat mengatakan istri Feng seharusnya bisa menuntut Feng sebagai suami dan ayah yang tidak bertanggung jawab.

    Selain harus membayar sejumlah uang, sang istri juga dipermalukan selama proses pengadilan. Yang paling kasihan dalam kasus tersebut adalah sang anak. Selain menjadi korban perceraian, selamanya dia akan dikenal sebagai bayi yang menghancurkan pernikahan orang tuanya, karena buruk rupa.

    THE WEEK | NATALIA SANTI

    Berita lain:
    AS Hukum Perencana Serangan ke Pentagon

    Setelah Badai Sandy, Banyak Penjarahan di New York

    Setelah Badai Sandy, Bahan Bakar Langka

    Hantaman Sandy Ibarat Tragedi Titanic di Daratan



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.