Tabrak Balita di Cina, Hanya Dihukum 3 Tahun  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wang Yue, bocah korban tabrak lari di Cina. whatsonningbo.com

    Wang Yue, bocah korban tabrak lari di Cina. whatsonningbo.com

    TEMPO.CO, Beijing—Pengadilan Distrik Nanhai di Kota Foshan, Provinsi Guangdong Kamis 6 September 2012 menghukum Hu Jun selama 3 tahun penjara karena melindas Wang Yue, bocah berusia 2 tahun. Di pengadilan, Hu mengakui telah menabrak korban. Hakim pun memberikan hukuman ringan karena Hu menyerahkan diri dan membayar sebagian biaya rumah sakit Yueyue. 

    Tapi warga Cina memprotes putusan tersebut. Dalam situs jejaring sosial, mereka menegaskan hukuman Hu sangat rendah. “Hanya 3 tahun dan 6 bulan untuk kematian?” kata ShuiQiangLeWoDeChenTuFeiYang di situs microblog miliknya. Sedangkan Feifeng1998 mengutuk kekejian Hu. “Dia mengakhiri hidup Xiao Yueyue sebelum bovah itu merasakan kehidupan,” tulisnya.

    Insiden mengenaskan pada Oktober tahun lalu ini menjadi sorotan dunia internasional karena Yueyue—nama kecil sang bocah—ditinggalkan sekarat di jalan oleh Hu Jun. Tragisnya, sekian banyak orang yang lalu lalang di jalan dekat toko tempat orang tua Yueyue berdagang, juga tak bertindak saat melihat tubuh bocah mungil itu terbaring di jalan.

    Puncaknya, sebuah kendaraan lain kembali melindas Yueyue. Ia sempat diabaikan selama 10 menit ketika Chen Xianmei, nenek penyapu jalan melintas. Ia kemudian menolong sang gadis cilik dan meminta bantuan. Sayng, kondisi Yueyue yang terluka parah tak tertolong. Ia kemudian meninggal di rumah sakit setelah koma selama beberapa hari.

    Sebuah video yang dilansir dari kamera pengintai di sudut jalan menjadi bukti nihilnya kemanusiaan dalam insiden tersebut. Ketika diposting di dunia maya, warga dunia mengutuk dan murka atas hilangnya kemanusiaan di Cina.

    L XINHUA | CNN | SITA PLANASARI AQUADINI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.