Industri Unggas Thailand Rugi Besar Akibat Flu Burung

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Bangkok: Industri unggas Thailand mengalami kerugian sangat besar menyusul dikeluarkannya larangan ekspor industri unggas oleh enam bangsa di Asia melalui pertemuan akrab importir unggas Pemerintah Jepang dan Uni Eropa. Di Thailand sendiri, sejak Jumat (24/1) sudah dua orang anak ditulari virus maut H5N1 (penyebar flu burung). Padahal, setahun daerah Muang Thai sedikitnya mampu mengekspor 270.000 ton unggas ke Jepang. Jumlah tersebut sama dengan separuh jumlah ekspor unggas Thailand dalam setiap tahunnya ke berbagai negara, termasuk Jepang dan Uni Eropa. Namun sejak pemerintah Thailand mengumumkan secara resmi bahaya flu burung itu Jumat, unggas dari Thailand terancam tidak bisa dikirimkan. Uni Eropa sendiri sampai saat ini masih mengunggu pemberitahuan resmi Pemerintah Thaliland, yang sebenarnya sudah diumumkan sejak Jumat lalu. "Kami tidak bisa mengambul resiko bagi kesehatan rakyat dan juga hewan," tutur David Byrne, Komisi Kesehatan Uni Eropa kepada AFP. Byrne, yang ialah secara insidental berada di Thailand sejak pekan lalu, mengatakan bahwa dia tidak bisa meramalkan nasib tindak lanjut ekspor unggas Thailand ke Uni Eropa tahun ini. Padahal, pada tahun 2003 saja sebanyak 166.000 ton produksi ekspor dari Thailand dikirim ke Uni Eropa. "Semua sangat bergantung pada bagaimana peristiwa dalam hari-hari dan minggu-minggu berikutnya," katanya. Menurut Byrne, Malaysia, Singapura, Taiwan, Korea Selatan, Filipina, Hong Kong dan Bangladesh saat ini juga sudah berhenti mengimpor unggas dari Thailand. Sehingga total keuntungan sekitar 2 milyar dolar pada 2003 mungkin tidak bisa dinikmati Pemerintah Thailand saat ini. Menjelang akhir pekan ini, sekitar 8,6 juta ekor ayam diharapkan sudah dibunuh atau sudah mati dari virus yang kini sudah menyebabkan enam orang meninggal di Vietnam, dan korban susulan dari Kamboja, Jepang dan Korea Selatan. Pemerintah Thailand sendiri sudah dihujani protes peternak setempat meski masih berskala kecil. Mereka merasa geram karena dituduh menutup-nutupi merebaknya virus flu burung di negara yang menjadikan indutri unggas sebagai tulang punggung industri itu. "Mengapa pemerintah tidak mengatakan kepada kami fakta tentang virus flu burung atau sedikitnya memberi perintah kepada kami agar melakukan tindakan pencegahan," Sirima Manapornsamrat, 26 tahun, yang terpaksa membunuh 3.000 burung ayam betina petelur, Sabtu (25/1) lalu. AFP/Ecep S. Yasa - Tempo News Room

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.