Soal Bom Bali, Intelijen Inggris Sudah Tahu Sebulan Sebelumnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, London, AFP:Agen intelijen domestik Inggris MI5, dituduh bersalah karena melakukan kesalahan penilaian yang fatal terkait dengan serangan teror bom di Kuta, Bali 12 Oktober lalu. Laporan komite keamanan dan intelijen parlemen Inggris, Rabu (11/12) menyatakan M15 lalai meningkatkan status penilaian mereka atas ancaman teroris terhadap kepentingan Amerika dan Inggris. Informasi akan adanya serangan teroris atas aset Inggris dan AS tersebut sudah diterima intelijen sebulan sebelum bom dashyat yang menewaskan sedikitnya 190 orang, meledak di Bali. Akibat kesalahan penilaian itu, peringatan perjalanan yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri Inggris, bahkan tidak diperbarui dan “tidak mencerminkan secara akurat bahaya dari ancaman itu” untuk wisatawan Inggris. Sekitar 26 warga Inggris akhirnya menjadi korban bom Bali. Ketua komite itu Ann Taylor --seorang anggota parlemen dari Partai Buruh—menjelaskan bahwa "komite tidak menghasilkan kesimpulan adanya kelalaian penilaian dari intelijen itu.” Kesimpulan komite ini juga menegaskan bahwa tidak ada laporan intelijen Inggris maupun negara lainnya, yang sanggup mencegah terjadinya serangan teroris itu. Meski menerima informasi tentang kemungkinan serangan teroris di Indonesia, pada 9 Oktober –tiga hari sebelum bom Bali meledak-- dinas intelijen M15 menampik rencana memperbarui penilaian atas situasi keamanan di wilayah itu. “Ancaman itu berkaitan dengan turis asing di Indonesia. Kita tahu konsentrasi turis terbesar di sana adalah di Bali dan turis berkumpul dalam jumlah besar di nightclub yang jumlahnya terbatas,” demikian laporan komite parlemen Inggris. “Fakta ini seharusnya dikenali oleh aparat keamanan kita, sebagai target potensial teroris. Ini kesalahan penilaian yang amat serius yang menandakan pelayanan keamanan tidak berjalan baik. Ini buruk karena meningkatkan skala ancaman itu sendiri,” lanjut komite itu. Menanggapi temuan parlemen, Menteri Luar Negeri Inggris Jack Straw menjelaskan bahwa MI5 sudah meninjau kembali sistem deteksi dini terhadap ancaman yang mereka miliki. “Pelajaran tragis dari Bali, memberitahu kita bahwa warga Inggris adalah target serangan teroris dimanapun di dunia ini,” kata Straw lagi. “Pesan dari kejadian ini adalah pemerintah harus semakin waspada untuk kemungkinan tragedi serupa di masa depan,” katanya. Sanak keluarga dari korban bom Bali di Inggris, mengaku shock mendengar temuan parlemen. Tobias Ellwood, yang kehilangan saudaranya Jon (39 tahun), mengaku: "Keluarga kami masih harus belajar menerima ini sebagai kenyataan, Namun, kami sangat marah begitu tahu status keamanan tidak ditingkatkan sebagaimana seharusnya dilakukan.” "Kami sadar, intelijen kita tidak bisa mencegah bom itu meledak. Tapi jika mereka memperingatkan kami, saudara saya mungkin hari ini masih hidup. Karena dia mungkin akan batal berangkat ke Bali,” katanya lagi. (Wahyu Dhyatmika --- TNR)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.