Badai Salju Lumpuhkan Eropa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Badai salju di  London. AP /Kirsty Wigglesworth

    Badai salju di London. AP /Kirsty Wigglesworth

    TEMPO Interaktif, Jakarta -Salju tebal menyebabkan gangguan perjalanan di beberapa negara di Eropa, seperti di Inggris Jerman, Irlandia, Italia, Belanda, Spanyol, dan Swiss. Kondisi paling parah terjadi di negeri Ratu Elizabeth, Inggris. Di sana salju menutup jalan dan jalur pedestrian setebal 20 centimeter.

    Kondisi ini mengakibatkan lumpuhnya aktivitas warga. Sebagian besar bandar udara di sana ditutup. Senin kemarin (20/12)  60 penerbangan dibatalkan. Bandar udara Heathrow, misalnya, terlihat beberapa penumpang tidur di bandar udara lantaran perjalanannya merek ditunda. Kondisi yang sama diprediksi bakal terjadi di bandar udara Gatwick, Stansted, Edinburg, dan Southampton.

    Tidak hanya itu beberapa perjalanan kereta api di daratan tinggi dibatalkan. Juru bicara Met Office di Inggris, John Hammond, mengatakan tidak ada perjalanan kereta dari Oxford ke Hereford Senin kemarin. Kondisi yang sama juga terjadi di Prancis. Pengelola perjalanan kereta di sana, lanjut Hammond, meminta warga tidak melakukan perjalanan jika tidak dalam kondisi mendesak. Akibat cuaca buruk kecepatan kereta dikurangi. Peringatan yang sama juga dilakukan pemerintah Jerman kepada rakyatnya.

    Hammod lebih lanjut mengatakan kondisi ini berpengaruh terhadp ditutupnya beberapa sekolah di Inggris. “Kita akan melihat banyak perubahan cepat dan penurunan suhu, ini berpotensi mengganggu beberapa jaringan dalam perjalanan,” katanya.

    Met Office, lanjut Hammond, mengatakan suhu udara diperkirakan mencapai minus 13 derajat di Skotlandia. Sedangkan di Inggris dan Berlin (Jerman) suhu udara diperkirakan minus 5 derajat dan diprediksi akan turun lagi hingga minus 10 derajat.

    Travel Daily News | Akbar Tri Kurniawan | Ajat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.