Demonstran Mendesak G-20 Dibubarkan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Yonhap News Agency

    AP/Yonhap News Agency

    TEMPO Interaktif, Seoul-Toshsiko Sogame, 64 tahun, repot-repot dari Jepang terbang ke Korea Selatan untuk melakukan demo. “Saya di sini menyuarakan revisi undang-undang imigrasi yang mendiskriminasi orang asing,” ujar Sogame kemarin sembari mengibarkan bendera bertuliskan bahasa Jepang. Para pedagang kaki lima, yang komplain atas hilangnya usaha akibat ketatnya pengamanan Konferensi Tingkat Tinggi G-20, ikut bergabung.

    Polisi Korea Selatan bersiap akan kemungkinan kekerasan bila ratusan pemrotes nekat menerobos selama pawai mereka di ibu kota dan bentrok dengan pasukan antihuru-hara dekat lokasi KTT. Berdasar aturan keamanan khusus untuk G-20, semua demonstrasi dilarang dalam radius 2 kilometer dari lokasi.

    Pengamanan memang ketat. Maklum, 20 kepala negara atau kepala pemerintahan kemarin dan hari ini menggelar KTT G-20 (grup 20 negara) di Seoul, Korea Selatan. Amerika Serikat berupaya menopang dukungan mengatasi masalah ekonomi global, meskipun pertemuan antara negara-negara maju dan berkembang tampaknya hanya akan mencapai sedikit substansi.

    Berjuang memulihkan kesatuan mengatasi krisis global dua tahun lalu, Grup 20 negara kaya dan berkembang ingin KTT ini bisa meredakan ketegangan akibat nilai mata uang, hasil dari ketidakseimbangan antara negara-negara eksportir yang kaya uang kontan dan negara importir yang terlilit utang. Namun, di balik layar, para negosiator bertengkar mengenai bahasa dalam deklarasi akhir yang akan diumumkan pada penutupan KTT hari ini. Versi final mungkin tidak jauh dari kesepakatan yang dicapai para menteri keuangan G-20 bulan lalu. Tetapi masih sulit untuk menyepakati pada naskahnya. 

    “G-20 telah mencegah kapal dari karam, kami telah mengangkatnya cepat, namun tidak semua mesin bekerja dengan kekuatan penuh. G-20 harus menunjukkan bahwa ini memang forum utama yang dibutuhkan untuk kerja sama ekonomi global,” ujar Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso.

    Yang menjadi iritasi utama pada seluruh pertemuan itu adalah rencana bank sentral Amerika Serikat menggelontorkan pasar dengan membeli bond senilai US$ 600 miliar untuk menghidupkan kembali perekonomian. Mantan gubernur bank sentral, Alan Greenspan, menilainya seperti mengaduk panci, mengatakan Amerika Serikat sedang mengejar sebuah kebijakan dari pelemahan dollar. 

    “Amerika tidak akan pernah melakukan hal itu,” kata Menteri Keuangan Timothy Geithner dalam sebuah wawancara dengan CNBC, Rabu lalu. “Kami tidak akan pernah mencoba melemahkan mata uang kami sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan kompetitif atau buat menumbuhkan ekonomi.”

    Geithner sekali lagi mengkritik kebijakan mata uang Cina bahwa perekonomian terbesar kedua dunia itu berisiko memicu tekanan inflasi. Cina sebelumnya melaporkan bahwa inflasi harga konsumen telah mencapai angka tertinggi pada Oktober dalam 25 bulan terakhir. 

    Namun Rusia menyatakan “sangat khawatir akan upaya yang dilakukan sejumlah negara mengambil keputusan-keputusan unilateral untuk melemahkan mata uang mereka” demi merangsang pertumbuhan. “Kami yakin tindakan itu menimbulkan ketegangan pelaku pasar dan volatilitas mata uang utama, mendorong kecemasan perang mata uang global,” kata seorang sumber yang dekat ke delegasi Rusia. 

    “Dalam sebuah cara yang bijak dan stabil, kami ingin memastikan kita menggenjot tingkat pertumbuhan di dalam dan luar negeri,” ujar Presiden Amerika Serikat Barack Obama, yang menggelar konferensi pers bersama Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak. “Sulit dilakukan bila kita mulai melihat meruyaknya ketidakseimbangan besar yang membantu berkontribusi kepada krisis yang ingin kita akhiri.” 

    Sebanyak 20 poin pernyataan setelah pertemuan puncak bisnis di perhelatan itu mendesak G-20 mengambil langkah nyata mendukung perdagangan bebas (FTA), penguatan investasi asing, memfasilitasi pertumbuhan ramah lingkungan, meningkatkan usaha kecil-menengah (UKM), serta meningkatkan efisiensi energi dan lapangan kerja anak muda. Pertemuan bisnis itu diikuti para bos dari 120 perusahaan utama dari 34 negara maju dan negara berkembang, dengan total pasar lebih dari US$ 4 triliun per tahun.

    Kantor berita Yonhap melaporkan, di luar meja-meja sidang, ratusan orang dari serikat buruh, kelompok sipil, dan aktivis internasional menggelar protes. Mereka menentang G-20 sambil mengacungkan poster “Tolak FTA, Stop G-20, Hentikan Rakyat Membayar Krisis, Tarik Tentara dari Afganistan”, dan lainnya. Protes berlanjut hari ini. 

    Reuters | AP | Bernama | CNN | Dwi Arjanto



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.