Amerika Temukan Cadangan Mineral Senilai Rp 10 Ribu Triliun di Afganistan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP| Dario Lopez Mills

    AP| Dario Lopez Mills

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Ahli geologi Amerika telah menemukan cadangan mineral senilai US$ 1 triliun (sekitar Rp 10 ribu triliun) di Afganistan. Cadangan itu dinilai dapat mengubah negara yang terkoyak perang itu menjadi salah satu pusat pertambangan dunia yang paling menguntungkan.

    Besi, tembaga, kobalt, emas dan logam industri vital seperti lithium telah ditemukan dalam jumlah yang lebih besar dari yang diduga sebelumnya, menurut pejabat senior AS.

    Sebuah memo Pentagon mengklaim Afganistan bisa menjadi "Saudi Arabianya lithium", bahan baku utama dalam pembuatan baterai untuk laptop dan ponsel.

    "Ada potensi yang menakjubkan di sini," kata Jenderal David H. Petraeus, Komandan Komando Sentral Amerika Serikat.

    "Ada banyak cadangan itu, tentu saja, tapi saya pikir itu sangat signifikan potensinya."

    Badan Survei Geologi Amerika telah memulai survei udara  terhadap sumber daya mineral Afghanistan pada tahun 2006. Mereka menggunakan data yang telah dikumpulkan oleh para ahli pertambangan Soviet selama pendudukan Soviet di Afganistan pada tahun 1980-an.

    Hasil yang menjanjikan itu membawa pada sebuah studi yang lebih canggih di tahun berikutnya.

    Tahun lalu, satuan tugas Pentagon telah membawa program pengembangan bisnis di Irak tiba di Afghanistan dan menganalisis temuan ahli geologi itu.

    Ahli pertambangan AS dibawa untuk memvalidasi kesimpulan survei itu. Pejabat tinggi AS dan Afganistan telah diberitahu.

    Sejauh ini, ditemukan deposit mineral terbesar adalah besi dan tembaga, tetapi juga termasuk simpanan besar niobium, sebuah logam lunak yang digunakan dalam memproduksi superkonduktor baja, serta unsur-unsur tanah yang jarang dan cadangan emas besar di wilayah Pashtun di Afganistan selatan.


    DAILY MAIL | EZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.