Liput Kemelut Politik Thailand, Wartawan Belanda Tertembak Bagian Bahu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto Michel Maas yang ditayangkan NOS.nl

    Foto Michel Maas yang ditayangkan NOS.nl

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Reporter Radio Nederland Wereldomroep, Michel Maas menjadi sasaran peluru tembak saat meliput operasi militer di Bangkok, Thailand. Maas, koresponden Belanda untuk Jakarta tertembak dibagian bahu. "Tidak terlalu parah. Kena di shoulder (bahu)," ujar Maas saat dihubungi Tempo, Kamis (20/05).

    Menurut Maas, saat ini dirinya masih dirawat di Rumah Sakit Polisi di Bangkok. "Sekarang saya masih di Police Hospita (Rumah Sakit Polisi), belum bisa keluar karena masih banyak tembakan," katanya.

    Kerusuhan besar meledak di Bangkok Rabu kemarin setelah militer Thailand melancarkan operasi memberangus demonstran antipemerintah, kelompok Kaus Merah. Serangan ke jantung perkemahan sekitar 3.000 demonstran itu dibalas dengan membakar sedikitnya 17 gedung penting.

    Gedung-gedung yang menjadi sasaran amukan pengunjuk rasa, antara lain, gedung-gedung bank, Bursa Efek Thailand, dan kompleks Central World. Mal terbesar kedua di Asia Tenggara yang dioperasikan oleh Central Pattana PCL juga dibakar. Mal itu luluh dilalap api setelah terlebih dulu dijarah. Media lokal mengutip Gubernur Bangkok bahwa dia tak mau ambil risiko menerjunkan truk pemadam kebakaran, karena takut diserang. Asap hitam dari gedung-gedung yang terbakar membubung ke angkasa saat matahari terbenam.

    Serangan mulai dilancarkan pagi hari. Seratusan tentara berlindung dalam kendaraan lapis baja, maju dan menembaki pendukung Kaus Merah dengan senjata semi-otomatis. Mereka merangsek ke kamp demonstran sehingga timbul bentrokan berdarah. Kerusuhan pun menjalar cepat. Sejak kerusuhan ini meledak pada Maret lalu, lebih dari 68 orang tewas--45 orang di antaranya meninggal dalam enam hari terakhir.

    NALIA RIFIKA
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.