Militer Thailand Menolak Gebuk Demonstran  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tentara menyemprotkan gas air mata ke arah demonstran di Pathum Thani, Thailand. REUTERS/Sukree Sukplang

    Tentara menyemprotkan gas air mata ke arah demonstran di Pathum Thani, Thailand. REUTERS/Sukree Sukplang

    TEMPO Interaktif, BANGKOK - Panglima Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand Jenderal Anupong Paojinda mengatakan tak akan memakai kekuatan militer untuk memukul mundur para pemrotes Kaus Merah yang menuntut Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva mundur. Hal itu dikemukakan seorang perwira tinggi di Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (CAPO), Jumat (9/4).

    "Kami tak bisa [memakai kekuatan militer] karena akan menimbulkan kerugian," kata petinggi militer itu mengutip Jeneral Anupong seperti dilansir harian Bangkok Post. "Mereka semua adalah warga Thailand." Komentar itu disampaikan Jenderal Anupong saat menjawab permintaan Perdana Menteri Abhisit bilamana para pengunjuk rasa itu menolak untuk mundur dan membubarkan diri.

    Perdana Menteri Abhisit sebelumnya mengatakan akan menegakkan ketertiban dengan menerapkan keadaan darurat di Ibu Kota Bangkok. Bahkan pemerintah sudah mengeluarkan surat penangkapan bagi para pemimpin aksi demo dari Front Bersatu Melawan Kediktatoran, yang kebanyakan merupakan pendukung bekas Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, buron nomor satu Negeri Gajah itu.

    "Terserah bagaimana keputusan perdana menteri," kata petinggi di komando itu seraya mengatakan bahwa ruang gerak militer terbatas. "Tapi sebelumnya mesti diselesaikan lewat kanal-kanal politis dulu." Pemimpin demo Jatuporn Prompan, Kamis (8/4) malam, malah mengatakan bahwa para pengunjuk rasa bakal digebuk mundur oleh militer malam ini.

    Kata Jautporn isyarat itu ia ketahui setelah Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban menunjuk Panglima Divisi Infantri 2 Mayor Jenderal Waris Rojanapakdee. "Ia akan memimpin sebuah operasi untuk membubarkan Kaus Merah," kata Jatuporn. Sinyal senada juga dilontarkan Abhisit. "Saya tahu masyarakat jengkel. Saya dan orang-orang di sini (CAPO) juga kesal," ujarnya di televisi Kamis (8/4).

    | BANGKOKPOST | ANDREE PRIYANTO
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.