Sri Lanka Bangkrut, Kelas Menengah Dulu Nongkrong di Mal Kini Tak Bisa Makan

Reporter

Tempo.co

Kamis, 23 Juni 2022 14:23 WIB

Dihantam Krisis Parah, Warga Sri Lanka Berbondong-bondong Antre Bikin Paspor

TEMPO.CO, Jakarta - Krisis ekonomi yang mendera Sri Lanka menyebabkan banyak orang menderita. Miraj Madushanka contohnya. Akuntan berusia 27 tahini tak pernah berpikir akan membutuhkan jatah pemerintah untuk memastikan keluarganya bisa makan dua kali sehari. Namun Sri Lanka yang kini bangkrut, mengubah hidupnya dan banyak orang lain warga kelas menengah yang sedang berkembang.

Keluarga Madushanka tidak pernah harus berpikir dua kali tentang bahan bakar atau makanan. Namun kini mereka berjuang untuk bisa makan tiga kali sehari dan bahkan harus mengurangi porsi makanan. Mereka menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengantre membeli bahan bakar yang langka. 

Negara kepulauan berpenduduk 22 juta ini menuju kebangkrutan. Utang luar negeri Sri Lanka meroket hingga US$ 51 miliar. Hampir tidak ada uang untuk mengimpor barang-barang seperti bensin, susu, gas untuk memasak, dan kertas toilet.

Sebelum kekacauan dimulai, Madushanka mengenyam pendidikan di Jepang. Ia berharap bisa bekerja di sana. Dia pindah kembali ke negaranya pada 2018 setelah ayahnya meninggal, untuk menjaga ibu dan saudara perempuannya.

Madushanka menyelesaikan studi dan mendapatkan pekerjaan di bidang pariwisata. Namun ia kehilangan pekerjaan di bawah bayang-bayang serangan teror 2019 yang mengguncang negara dan ekonominya.

Pekerjaan berikutnya menguap selama pandemi. Dia kini bekerja untuk sebuah perusahaan manajemen, pekerjaan keempatnya dalam empat tahun terakhir. Namun gaji yang didapat tak bisa untuk menghidupi keluarganya.

Harga pangan naik tiga kali lipat dalam beberapa pekan terakhir, memaksa keluarga tersebut untuk mencari bantuan beras dari pemerintah dan sumbangan dari kuil terdekat. Tabungan Madushanka pun habis. “Saat ini, hanya cukup untuk bertahan hidup. Entah kami harus bertahan bagaimana lagi,” katanya.

Krisis ekonomi yang menghantam Sri Lanka adalah yang terparah. Pada 2009, setelah perang saudara di Sri Lanka berakhir atau bencana tsunami yang menghancurkan pada 2004, ekonomi Sri Lanka tak pernah terpuruk begitu dalam. 

Selama ini kelas menengah Sri Lanka, yang diperkirakan 15-20 persen dari populasi perkotaan negara itu, umumnya menikmati keamanan dan kenyamanan ekonomi. “Krisis ini benar-benar mengejutkan kelas menengah, memaksa mereka ke dalam kesulitan yang tidak pernah dialami sebelumnya, seperti mendapatkan barang-barang kebutuhan pokok. Tidak tahu apakah mereka bisa mendapatkan bahan bakar meskipun harus mengantre berjam-jam,” kata Bhavani Fonseka, seorang peneliti senior di Pusat Alternatif Kebijakan di Kolombo, ibu kota Sri Lanka.

Kelas menengah Sri Lanka mulai membengkak pada 1970-an setelah ekonomi negara itu terbuka untuk lebih banyak perdagangan dan investasi. Sejak itu, PDB per kapita Sri Lanka telah tumbuh, melonjak lebih tinggi dibandingkan banyak negara tetangganya.

Kelas menengah yang semula memiliki kehidupan stabil kini terpuruk. “Ambisi kelas menengah memiliki rumah, mobil, dapat menyekolahkan anak-anak ke sekolah yang bagus, makan di luar setiap beberapa minggu dan berlibur ke sana-sini telah hilang,” kata ekonom Chayu Damsinghe. 

Protes telah berkecamuk sejak April. Para demonstran menyalahkan Presiden Gotabaya Rajapaksa dan pemerintahnya atas kesalahan kebijakan yang melumpuhkan ekonomi dan menjerumuskan negara ke dalam kekacauan. Pada bulan Mei, gelombang protes memaksa saudara laki-laki Rajapaksa dan Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa untuk mundur. Penggantinya, Ranil Wickremesinghe, mengandalkan paket bail-out dari Dana Moneter Internasional dan bantuan dari negara-negara sahabat seperti India dan China untuk menjaga perekonomian tetap bertahan.

Kebangkrutan Sri Lanka diumumkan langsung oleh PM Ranil Wickremesinghe. Pada Rabu 22 Juni 2022, ia mengakui ekonomi negaranya runtuh setelah berbulan-bulan kekurangan makanan, bahan bakar dan listrik.

Kepada parlemen, Ranil mengatakan bahwa negara Asia Selatan itu menghadapi situasi yang jauh lebih serius dari sekadar kekurangan bahan bakar, gas, listrik, dan makanan."Ekonomi kita benar-benar runtuh," katanya. 

Baca: Sri Lanka Bangkrut, PM Ranil: Ekonomi Benar-Benar Runtuh

INDIAN EXPRESS | CNN | ABC NEWS 






Sri Lanka Bangkrut, Pengemudi Truk Tewas Saat Antre BBM Selama 5 Hari

15 jam lalu

Sri Lanka Bangkrut, Pengemudi Truk Tewas Saat Antre BBM Selama 5 Hari

Warga Sri Lanka harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM di tengah krisis ekonomi parah yang melanda negara tersebut.


Cerita WNI di Sri Lanka, Beli Gas hingga Sembako Harus Antre Berjam-jam

18 jam lalu

Cerita WNI di Sri Lanka, Beli Gas hingga Sembako Harus Antre Berjam-jam

Maria, seorang WNI yang tinggal di Sri Lanka bercerita tentang sulitnya mendapatkan gas hingga kebutuhan pokok akibat krisis ekonomi parah.


Top 3 Dunia: Restoran Pengganti McDonald's di Rusia Catat Rekor Penjualan

22 jam lalu

Top 3 Dunia: Restoran Pengganti McDonald's di Rusia Catat Rekor Penjualan

Berita Top 3 Dunia pada Kamis 23 Juni 2022 diawali oleh restoran pengganti McDonald's di Rusia menorehkan rekor penjualan pada hari pertama beroperasi


Sri Lanka Bangkrut, Kemlu: WNI Terdampak, Tapi Tidak Parah

1 hari lalu

Sri Lanka Bangkrut, Kemlu: WNI Terdampak, Tapi Tidak Parah

Kendati Sri Lanka bangkrut, WNI relatif tidak terdampak parah oleh kebangkrutan negara itu. WNI juga masih dapat mengakses kebutuhan logistik.


Sri Lanka Bangkrut, PM Ranil: Ekonomi Benar-Benar Runtuh

2 hari lalu

Sri Lanka Bangkrut, PM Ranil: Ekonomi Benar-Benar Runtuh

Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe pada Rabu 22 Juni 2022 mengakui ekonomi negaranya runtuh setelah berbulan-bulan mengalami krisis


Krisis Sri Lanka, Delegasi IMF Tiba untuk Membahas Bailout

4 hari lalu

Krisis Sri Lanka, Delegasi IMF Tiba untuk Membahas Bailout

Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe mengatakan program IMF sangat penting untuk mengakses pembiayaan dari sumber-sumber lain


Top 3 Dunia: Thailand Larang Ganja di Sekolah, Krisis Sri Lanka Kian Parah

5 hari lalu

Top 3 Dunia: Thailand Larang Ganja di Sekolah, Krisis Sri Lanka Kian Parah

Top 3 dunia kemarin adalah Thailand melarang ganja beredar di sekolah, Jokowi bisa jadi penengah Rusia Ukraina, krisis Sri Lanka parah.


Krisis Sri Lanka Memburuk, Kantor dan Sekolah Tutup karena Tak Ada BBM

6 hari lalu

Krisis Sri Lanka Memburuk, Kantor dan Sekolah Tutup karena Tak Ada BBM

Pemerintah Sri Lanka tak punya uang untuk membeli BBM. Akibatnya kantor dan sekolah harus tutup selama dua pekan.


Pasokan BBM Sri Lanka Tersisa Hanya untuk Lima Hari Lagi

8 hari lalu

Pasokan BBM Sri Lanka Tersisa Hanya untuk Lima Hari Lagi

Sri Lanka tidak dapat membayar US$725 juta pembayaran yang telah jatuh tempo kepada pemasok BBM


Krisis Sri Lanka Kian Parah, Warganya Ramai-ramai Buat Paspor

8 hari lalu

Krisis Sri Lanka Kian Parah, Warganya Ramai-ramai Buat Paspor

Krisis Sri Lanka membuat warganya berbondong-bondong ingin meninggalkan negara itu. Permohonan pembuatan paspor meningkat tajam.