Angela Merkel: Uni Eropa Baru Bisa Hadapi Cina jika Kompak

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Kanselir Jerman Angela Merkel bertemu Presiden Cina Xi Jinping di Beijing, Jumat, 6 September 2019. [CHINA DAILY]

    Kanselir Jerman Angela Merkel bertemu Presiden Cina Xi Jinping di Beijing, Jumat, 6 September 2019. [CHINA DAILY]

    TEMPO.CO, Jakarta - Eropa hanya dapat bersaing dengan Cina jika berbicara dengan satu suara, kata Kanselir Jerman Angela Merkel menyerukan lebih banyak persatuan di seluruh benua.

    "Bagaimana kita menghadapi kebangkitan Cina sebagai kekuatan ekonomi, politik dan militer ... sangat bergantung pada apakah Eropa benar-benar berbicara dengan satu suara," kata Angela Merkel di Spanyol setelah menerima hadiah Carlos V, Kamis, 14 Oktober 2021.

    "Eropa hanya akan kuat jika bersatu," katanya seperti dikutip Reuters.

    Merkel dan Presiden Cina Xi Jinping mengadakan panggilan video pada Rabu, membicarakan  perkembangan hubungan Cina-Jerman dan Cina-Uni Eropa.

    Pernyataan Merkel itu karena memburuknya hubungan CIna dan Uni Eropa dalam setahun terakhir.

    Presiden Xi Jinping juga akan bicara melalaui telepon dengan Presiden Dewan Eropa Charles Michel pada hari Jumat, menurut seorang pejabat Uni Eropa yang mengetahui rencana tersebut. 

    Menyusul pertemuan 27 pemimpin Uni Eropa pekan lalu, di mana mereka membahas perlunya "menyeimbangkan kembali" hubungan dengan Cina, pembicaraan antara Xi dan Michel akan menandai pertama kalinya keduanya berbicara secara langsung sejak akhir tahun lalu.

    Hubungan UE-Cina telah memburuk selama setahun terakhir karena perlakuan Beijing terhadap minoritas Muslim Uyghur di wilayah Xinjiang serta pertikaian dengan Lithuania dan Taiwan, demikian dilaporkan Politico.

    Beberapa negara Uni Eropa termasuk Lithuania telah menyerukan pendekatan yang lebih keras ke Cina. Pada hari Minggu, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell berjanji untuk berunding dengan Beijing "dari posisi persatuan dan kekuatan."

    Seorang diplomat Uni Eropa mengatakan Michel akan mendesak Xi untuk mempertimbangkan kembali sanksi yang dikenakan Beijing pada politisi Uni Eropa setelah blok itu sendiri menjatuhkan sanksi pada pejabat Cina terkait dengan kerja paksa di Xinjiang.

    Pembalasan Cina secara efektif membekukan pekerjaan untuk menyelesaikan kesepakatan investasi Brussels dengan Beijing yang disepakati akhir tahun lalu.

    Diplomat lain mengatakan panggilan itu menunjukkan kebutuhan Uni Eropa untuk merumuskan kebijakan Cina sendiri “dari sudut otonomi strategis.” Juru bicara Michel menolak berkomentar.

    Reinhard Bütikofer, yang ada dalam daftar sanksi Beijing, menyebut seruan yang direncanakan itu sebagai perkembangan "positif".

    "Saya membacanya sebagai sinyal bahwa #Beijing mulai memahami pelajaran penting: mereka tidak dapat membuat kemajuan nyata hanya dengan berbicara dengan para pemimpin masing-masing negara anggota," kata Bütikofer di akun Twitter.

    Seruan itu juga datang di tengah laporan bahwa Xi tidak akan menghadiri KTT G20 mendatang di Roma secara langsung akhir bulan ini, yang dapat membuat lebih sulit untuk mencapai kesepakatan tentang komitmen iklim.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Prosedur dan Syarat Perjalanan selama PPKM Level 3 Nataru

    Pemerintah mengeluarkan syarat dan prosedur perjalanan selama PPKM saat Natal dan Tahun Baru. Perjalanan ke masuk dari luar negeri juga diperketat.