Laboratorium Nasional Amerika: Skenario COVID-19 Bocor dari Lab Memungkinkan

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peter Ben Embarek, anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki asal-usul pandemi penyakit virus corona atau COVID-19 saat mengunjungi pameran bagaimana Tiongkok memerangi virus corona di Wuhan, provinsi Hubei, Cina, 30 Januari, 2021.  Satu hipotesis, yang ditolak oleh Cina, adalah bahwa wabah tersebut disebabkan oleh kebocoran di laboratorium pemerintah. REUTERS/Thomas Peter

    Peter Ben Embarek, anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki asal-usul pandemi penyakit virus corona atau COVID-19 saat mengunjungi pameran bagaimana Tiongkok memerangi virus corona di Wuhan, provinsi Hubei, Cina, 30 Januari, 2021. Satu hipotesis, yang ditolak oleh Cina, adalah bahwa wabah tersebut disebabkan oleh kebocoran di laboratorium pemerintah. REUTERS/Thomas Peter

    TEMPO.CO, Jakarta - Dugaan soal COVID-19 berasal dari laboratorium kembali menjadi sorotan. Perkembangan terbaru, kajian Laboratorium Nasional Amerika mendapati skenario COVID-19 berasal dari kebocoran laboratorium virologi Wuhan, Cina memungkinkan. Oleh karenanya, mereka merekomendasikan hal tersebut diinvestigasi lebih jauh.

    Dikutip dari laporan Wall Street Journal dan Reuters, studi Laboratorium Nasional Amerika sudah dipersiapkan sejak Mei 2020. Studi tersebut mengambil lokasi di Livermore National Laboratory, California. Adapun studi yang dilakukan berupa analisis genome.

    "Studi dipersiapkan oleh Divisi Z di mana merupakan bagian intelijen. Lawrence Livermore juga memiliki keahlian dalam hal isu biologis," ujar sumber Wall Street Journal, Selasa, 8 Juni 2021.

    Sumber tersebut melanjutkan, para peneliti di DIvisi Z meneliti susunan genetik dari COVID-19 untuk mengetahui bagaimana virus tersebut berevolusi, bermutasi, dan menyebar di populasi. Ternyata, hasil sepanjang studi tidak mengesampingkan skenario kebocoran laboratorium sepenuhnya.

    Studi itu sendiri, menurut sumber yang diwawancarai, merupakan salah satu investigasi pertama soal skenario COVID-19 berasal dari kebocoran laboratorium virologi Wuhan. Adapun studi itu berjalan paralel dengan studi virus berasal dari hewan liar yang kemudian menyebar di komunitas. Sumber terkait enggan menjelaskan lebih lanjut.

    Juru bicara Lawrence Livermore juga enggan mengungkapkan detil dari studi yang dilakukan.

    Presiden AS Joe Biden berbicara kepada media saat dia tiba di Newcastle, Delaware, AS, 26 Maret 2021. Kacamata Aviator ini terus menjadi tren pada tahun 1960-1970an untuk kalangan elit. REUTERS/Joshua Roberts

    Menurut laporan Wall Street Journal, Kementerian Luar Negeri Amerika baru menerima laporan dari Lawrence Livermore pada Oktober 2020 yang kemudian meminta informasi lebih lanjut karena temuan tersebut berbeda dengan keyakinan selama ini.
    Hasil permintaan itu yang di kemudian hari menjadi basis Pemerintah Amerika untuk mendesak investigasi lebih jauh soal asal usul COVID-19.

    Sebagian informasi yang didapat Kementerian Luar Negeri diungkap ke publik pada 15 Januari lalu, lima hari sebelum Joe Biden dilantik. Isinya tidak jauh beda, menyakini COVID-19 berasal dari lab di Wuhan. Alasan yang dipaparkan Kementerian Luar Negeri, tiga peneliti di Lab Virologi Wuhan (WIV) menderita gejala serupa COVID-19 pada Desember 2019.

    Pada Mei 2021, Presiden Joe Biden mantap meminta intelijen Amerika untuk kembali menginvestigasi asal usul COVID-19, terutama skenario kebocoran lab. Biden tidak menyinggung secara spesifik temuan Divisi Z di Lawrence Livermore, namun menegaskan bahwa permintaannya berdasarkan laporan-laporan intelijen. Ia juga memastikan Laboratorium Nasional Amerika akan dilibatkan.

    Menteri Luar Negeri Amerika, Antony Blinken, dalam pernyataan terbarunya menyatakan Amerika akan betul-betul berupaya mengungkap dari mana COVID-19 berasal. Hal itu, kata ia, dipicu keengganan Cina memberikan seluruh data COVID-19 ke tim investigasi dari WHO. "Pemerintah Cina belum memberikan transparansi (soal COVID-19) yang kami butuhkan," ujar Blinken.

    Per berita ini ditulis, WHO sudah menyatakan bakal menginvestigasi lagi asal-usul COVID-19. Selain itu, mereka menyatakan bakal menggunakan kemampuan riset sendiri jika CIna memang tidak mau berbagi data soal pandemi COVID-19. Cina belum berkomentar.

    Baca juga: Joe Biden Minta Intelijen AS Selidiki Ulang Asal-usul COVID-19

    ISTMAN MP | WALL STREET JOURNAL | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.