Ibu-ibu di Kolombia Ikut Unjuk Rasa Melawan Pemerintah

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kelompok ibu tunggal di Kolombia yang menamai diri Front Line Moms ikut berunjuk rasa. Sumber: Reuters

    Kelompok ibu tunggal di Kolombia yang menamai diri Front Line Moms ikut berunjuk rasa. Sumber: Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekelompok ibu-ibu di Kolombia ikut berunjuk rasa menuntut adanya bantuan ekonomi dan perubahan sosial. Salah satu yang berunjuk rasa adalah Vanesa, ibu dengan tiga anak.

    Vanesa, 39 tahun, hanya melindungi diri dengan helm dan bandana yang menutupi hidung serta mulutnya. Dia bersama 10 ibu-ibu lainnya menyebut diri mereka ‘Front Line Moms’.

    “Jika anak-anak kami bertempur, jika anak-anak kami melakukan aksi jalan, kami ibu-ibu akan mendukung mereka dan berjuang bersama mereka,” demikian diteriakkan Front Line Moms, dalam unjukrasa tersebut.

    Kelompok ibu tunggal di Kolombia yang menamai diri Front Line Moms ikut berunjuk rasa. Sumber: Reuters

    Kolombia sudah hampir sebulan diguncang unjuk rasa dan ribuan jalan diblokade demonstran. Unjuk rasa tersebut untuk melawan kesenjangan dan kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian. Pada tahun lalu, angka kemiskinan di Kolombia sebesar 42,5 persen dan tingginya angka pengangguran telah membuat kesenjangan semakin senjang.   

    Vanesa kehilangan pekerjaannya sebagai guru menari tango gara-gara pandemi Covid-19. Walhasil, dia sekarang mulai berjualan kopi secara kaki lima.  

    “Kami adalah kelompok ibu tunggal, yang mencoba berjuang atas pelanggaran terhadap hak-hak anak muda,” kata Vanesa, yang tak mau menyebut nama keluarganya.

    Gerakan Front Line Moms muncul di sejumlah video yang diunggah ke media sosial. Salah satu video memperlihatkan ledakan suara granat yang dilemparkan polisi ke dekat kelompok ibu-ibu tersebut. Menurut Vanesa, Front Line Moms tergerak untuk ikut berunjuk rasa setelah melihat adanya sekelompok ibu-ibu dan anak-anak mereka berunjuk rasa lalu dilempari gas air mata oleh aparat kepolisian Kolombia.

    “Itu adalah sebuah lecutan sehingga kami memutuskan untuk melakukan hal berbeda,” kata Vanesa.

    Pemerintah Kolombia mengklaim ada 17 korban tewas dalam rangkaian unjuk rasa melawan pemerintah. Sedangkan kelompok-kelompok HAM mengklaim jumlah yang sesungguhnya lebih dari itu. Jaksa Agung Kolombia menyebut ada 290 laporan orang hilang.

    Baca juga: Presiden Kolombia Minta Demonstran Hentikan Blokade Jalan

    Sumber: Reuters  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.