Joe Biden Ingin Temui Vladimir Putin, Redakan Ketegangan Amerika - Rusia

Presiden AS Joe Biden berbicara tentang rencana pemerintahannya untuk memperkuat manufaktur Amerika selama penampilan singkat di South Court Auditorium di Gedung Putih di Washington, AS, 25 Januari 2021. [REUTERS / Kevin Lamarque]

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Amerika Joe Biden ingin menurunkan ketegangan dengan Rusia yang menanjak beberapa hari terakhir, terutama akibat isu Ukraina dan Krimea. Untuk mewujudkannya, Joe Biden dilaporkan telah mengajukan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Harapannya, dari pertemuan itu, semua menjadi jelas.

Menurut laporan Reuters, pengajuan itu disampaikan Joe Biden ke Putin via telepon. Adapun Joe Biden menawarkan pertemuan digelar di negara lain, bukan di Amerika maupun Rusia.

"Presiden Biden menyuarakan keluhannya terkait konsentrasi militer tiba-tiba di perbatasan Ukraina dan Krimea," ujar keterangan pers Gedung Putih, Selasa, 13 April 2021.

Presiden Biden menambahkan kepada Putin di teleponnya bahwa Amerika tidak memiliki niatan untuk bermusuhan dengan Rusia. Apa yang diinginkan Amerika, kata Biden, adalah hubungan yang stabil dan terkendali. Joe Biden berharap pertemuan bisa digelar untuk memastikan segala isu antara Amerika dan Rusia bisa di-clearkan.

Jika Rusia mencari gara-gara dengan mengancam kepentingan nasional Amerika, Joe Biden menegaskan bahwa pihaknya tak akan tinggal diam. Hal tersebut menyinggung kasus-kasus di mana Rusia melakukan peretasan dan mencoba mengintervensi pemilu Amerika.

Anggota unit pertahanan diri pro-Rusia berjalan setelah mengambil sumpah kepada pemerintah Krimea di Simferopol (10/3). Pasukan Rusia posisinya di semenanjung Krimea Ukraina pada Senin, mengambil alih sebuah rumah sakit militer dan pangkalan rudal. REUTERS/Vasily Fedosenko

Pemerintah Rusia mengkonfirmasi percakapan telepon antara Joe Biden dan Vladimir Putin. Mereka juga membenarkan adanya permintaan untuk pertemuan tingkat tinggi, namun belum bisa memberikan jawaban apakah permintaan itu diiyakan atau tidak.

Menurut keterangan Pemerintah Rusia, Biden ingin melakukan normalisasi dengan Rusia untuk berbagai isu. Hal itu mulai dari soal perdagangan senjata, perjanjian nuklir Iran, penarikan pasukan dari Afghanistan, hingga perubahan iklim.

Diberitakan sebelumnya, Rusia menjadi sorotan beberapa hari terakhir karena menempatkan 80 ribu tentara, berserta alusista, di perbatasan Ukraina dan Krimea. Beberapa pihak menyakini konsentrasi itu sebagai persiapan Rusia berperang dengan Ukraina, terutama soal status kelompok separatis pro-Rusia yang berbasis di Donetsk dan Luhansk.

Amerika termasuk pihak yang mengendus niatan perang itu. Oleh karenanya, mereka mengirimkan dua kapal perangnya ke Laut Hitam. Selain itu, Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken memperingatkan Rusia untuk tidak mencari gara-gara dengan Ukraina. Dalam hal ini, Blinken menegaskan Amerika berada di pihak Ukraina.

Rusia merespon keras ucapan Blinken. Mereka balik meminta Amerika untuk tidak mencari gara-gara. Selain itu, mereka juga meminta Amerika untuk segera menarik mundur kedua kapal perangnya yang sedang melaut ke Laut Hitam.

"Amerika adalah musuh kami dan akan berupaya apapun untuk memojokkan Rusia di panggung global...Kami peringatkan Amerika untuk jauh-jauh dari Krimea dan pesisir Laut Hitam. Ini untuk kebaikan mereka," ujar Deputi Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, kepada administrasi Joe Biden.

Baca juga: Gedung Putih Waswas Rusia Menempatkan Tentara di Perbatasan Ukraina

ISTMAN MP | REUTERS | AL JAZEERA







Putin Ulang Tahun ke-70 Hari Ini, Kim Jong Un Kirim Ucapan Selamat

3 menit lalu

Putin Ulang Tahun ke-70 Hari Ini, Kim Jong Un Kirim Ucapan Selamat

:Presiden Rusia Vladimir Putin berulang tahun ke-70 hari ini. Ia mendapat ucapan selamat termasuk dari Kim Jong Un.


Kementerian Luar Negeri Belum Akui Pemerintah Bayangan di Myanmar

1 jam lalu

Kementerian Luar Negeri Belum Akui Pemerintah Bayangan di Myanmar

Kementerian Luar Negeri masih akan menunggu KTT ASEAN pada November 2022 dalam memberi pengakuan ke Pemerintah sementara Myanmar


Daftar 10 Negara Terbesar di Dunia, Indonesia Termasuk?

1 jam lalu

Daftar 10 Negara Terbesar di Dunia, Indonesia Termasuk?

10 negara terbesar di dunia berdasarkan luas wilayahnya dengan total area meliputi daratan dan daerah perairan


Mengenal Yandex, Mesin Pencarian Asal Rusia Pesaing Google

4 jam lalu

Mengenal Yandex, Mesin Pencarian Asal Rusia Pesaing Google

Mengenal apa itu Yandex, sejarah serta kelebihan dan kekurangan dibandingkan search engine Google.


WNI yang Masih Bertahan di Ukraina dalam Kondisi Aman

4 jam lalu

WNI yang Masih Bertahan di Ukraina dalam Kondisi Aman

Kementerian Luar Negeri RI mengkonfirmasi tidak ada WNI yang terdampak pencaplokan empat wilayah Ukraina oleh Rusia.


Ratusan Ribu Warga Rusia ke Luar Negeri Hindari Wamil ke Ukraina

9 jam lalu

Ratusan Ribu Warga Rusia ke Luar Negeri Hindari Wamil ke Ukraina

Ribuan warga Rusia membanjiri perbatasan negara-negara tetangga sejak Presiden Vladimir Putin mengumumkan mobilisasi parsial pada 21 September


Rudal Rusia Hantam Apartemen di Wilayah Caplokan, Petinggi Militer Dikecam

11 jam lalu

Rudal Rusia Hantam Apartemen di Wilayah Caplokan, Petinggi Militer Dikecam

Sebuah rudal Rusia menghancurkan blok apartemen di wilayah Ukraina yang telah dicaplok Moskow hingga menewaskan tujuh orang,


Putin Akan 'Menstabilkan' 4 Wilayah Caplokan

12 jam lalu

Putin Akan 'Menstabilkan' 4 Wilayah Caplokan

Presiden Vladimir Putin mengatakan bahwa Rusia akan menstabilkan situasi di empat wilayah Ukraina yang dicaploknya,


Top 3 Dunia: Ramzan Kadyr Naik Pangkat Usai Beri Saran ke Vladimir Putin

13 jam lalu

Top 3 Dunia: Ramzan Kadyr Naik Pangkat Usai Beri Saran ke Vladimir Putin

Top 3 dunia pada 6 Oktober 2022, di urutan pertama berita Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyr yang mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel jenderal


Volodymyr Zelensky Klaim Rebut Wilayah yang Dicaplok Rusia

1 hari lalu

Volodymyr Zelensky Klaim Rebut Wilayah yang Dicaplok Rusia

Volodymyr Zelensky menyatakan pasukan Ukraina telah merebut kembali lebih banyak kawasan di Kherson, salah satu wilayah selatan negara tersebut.