Fauci: Amerika Belum Butuh Vaksin AstraZeneca

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anthony Fauci, direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases terlihat dalam gambar yang diambil dari sambungan video ketika dia bersaksi dari rumahnya selama sidang Komite Senat AS untuk Kesehatan, Pendidikan, Perburuhan, untuk dengar pendapat tentang respons virus corona di Washington, AS, 12 Mei 2020. [Komite / Handout Komite Kesehatan, Pendidikan, Perburuhan, dan Pensiun Senat via REUTERS]

    Anthony Fauci, direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases terlihat dalam gambar yang diambil dari sambungan video ketika dia bersaksi dari rumahnya selama sidang Komite Senat AS untuk Kesehatan, Pendidikan, Perburuhan, untuk dengar pendapat tentang respons virus corona di Washington, AS, 12 Mei 2020. [Komite / Handout Komite Kesehatan, Pendidikan, Perburuhan, dan Pensiun Senat via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Penasihat Medis Pemerintah Amerika, Anthony Fauci, menegaskan bahwa untuk saat ini Negeri Paman Sam belum membutuhkan vaksin AstraZeneca. Alasannya beragam mulai dari keamanannya yang masih dipergunjingkan hingga berlebihnya stok vaksin COVID-19 di Amerika. Walau begitu, Fauci tidak membantah bahwa vaksin AstraZeneca memiliki potensi.

    "Dari sisi efikasi, vaksin AstraZeneca sebenarnya adalah vaksin COVID-19 yang bagus, terutama jika isu keamanannya bisa dituntaskan di kawasan Uni Eropa," ujar Fauci, dikutip dari Channel News Asia, Selasa, 13 April 2021.

    Diberitakan sebelumnya, kecurigaan terhadap vaksin COVID-19 AstraZeneca belum mereda. Beberapa negara mengkaji ulang penggunaannya usai regulator di Eropa (EMA) menemukan indikasi baru keterkaitan antara vaksin AstraZeneca dan pembekuan darah. Salah satunya adalah Uni Afrika yang belakangan memutuskan untuk batal membeli vaksin AstraZeneca.

    Ada juga yang memutuskan untuk membatasi penggunaannya. Di Italia, misalnya, pemerintah setempat membatalkan penggunaan vaksin garapan Universitas Oxford tersebut untuk penduduk di bawah usia 60 tahun. Di atas usia tersebut, vaksin AstraZeneca tetap boleh digunakan sesuai anjuran tim medis.

    Fauci berkata, tidak tertutup kemungkinan Amerika akan menyusul menggunakan vaksin AstraZeneca dalam kapasitas tertentu. Namun, melihat kondisi vaksinasi di Amerika sejauh ini, Fauci mengaku tak yakin Amerika akan membutuhkannya. Apalagi, stok vaksin surplus di Amerika bisa mencapai 600 juta dosis.

    Perihal kampanye vaksinasi COVID-19 sendiri, Fauci mengingatkan kembali bahwa tingginya angka vaksinasi tidak sepenuhnya menekan pandemi. Hal itu, kata ia, hanya akan mencegah ledakan wabah dalam skala besar, namun peningkatan kasus masih bisa terjadi.

    "Jadi, ini masih terlalu prematur untuk mengatakan kita menang dengan kondisi pandemi seperti sekarang," ujar Fauci menegaskan.

    Per berita ini ditulis, angka vaksinasi COVID-19 di Amerika sudah mencapai 3,21 juta per hari. Hal itu sudah melebihi target vaksinasi yang ditetapkan oleh Presiden Amerika Joe Biden di awal kepemimpinannya, 1,5 juta hari. Dengan capaian tersebut, diprediksi Amerika akan mencapai herd immunity tahun ini.

    Adapun jumlah vaksin COVID-19 yang telah didistribusikan di Amerika sejauh ini ada 237 juta dosis. Dari angka itu, jumlah vaksin yang sudah diberikan ada 189 juta dosis. Sementara itu, untuk total kasus COVID-19 di Amerika ada 31 juta orang dengan jumlah korban meninggal ada 576 ribu.

    Baca juga: Australia Laporkan Kasus Pembekuan Darah Kedua Akibat Vaksin AstraZeneca

    ISTMAN MP | CHANNEL NEWS ASIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H